#radikalisme#terorisme#beritalampung

Kelekatan Keluarga Halau Penyusup Senyap Radikal

( kata)
<i>Kelekatan Keluarga Halau Penyusup Senyap Radikal</i>
Syekh Ali Jaber akan bertolak ke Jakarta dari Bandara Radin Inten II, Branti, Lampung Selatan, Senin (14/9/2020). DOK LAMPUNG POST


LANTUNAN ayat Surah Al-Fatihah berkumandang di Masjid Falahudin, Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Minggu, 13 September 2020, sore. Seorang bocah perempuan membacakan ayat-ayat surah pembuka Al-Quran dengan lembut di hadapan ratusan tamu wisuda santri.

Wajah sang ibu semringah menemani di atas panggung. Buah hatinya berkesempatan melafalkan Surah Al-Fatihah secara langsung di hadapan pendakwah Syekh Ali Jaber. Setelah semua ayat digemakan, Syekh Ali mengajak bocah foto bersama untuk mengabadikan momen istimewa tersebut. Rona bahagia terlukis jelas saat anak-ibu itu merapikan posisi agar terbingkai apik saat difoto. 

Tiba-tiba seorang pemuda berkaus biru lari menuju panggung berkarpet hijau, menghampiri Syekh Ali. Pisau yang digenggam langsung dihujamkan ke tubuh pendakwah kondang itu. Serangan kilat tersebut mengenai lengan kanan sang ulama besar. Suasana mencekam. Beberapa jemaah dan marbot berlarian ke panggung untuk pasang badan melindungi Syekh Ali.

Penusuk berbadan kurus itu langsung dilumpuhkan. Syekh Ali dilarikan ke Puskesmas Gedong Air untuk mendapat pertolongan medis. 

Pada malam harinya, pendakwah kelahiran Madinah itu melanjutkan agenda ceramah di Masjid Baiturrohim, Perum Korpri Sukarame. Hadir dengan tangan kanan berbalut arm sling, Syekh Ali menyampaikan ceramah dengan penuh semangat. 

Kepada Lampung Post, Syekh Ali menyebut penusukan itu sebagai ujian. "Alhamdulillah, peristiwa ini saya lihat hanya ujian. Jangan dikaitkan dengan hal apapun. Isu politik, isu macam-macam, saya tidak mau. Ulama dan aparat harus sinergi saling menjaga dan memuliakan," ujarnya. Ia mengajak khalayak memetik pelajaran untuk lebih waspada. 

Pendakwah 44 tahun itu juga menyerukan semangat persatuan bagi semua umat beragama. "Di masa pandemi ini, mari senantiasa menjaga kemurnian akhlak. Tetap tenang, jangan terprovokasi. Khususnya bagi generasi muda, jadilah pejuang kemajuan bangsa," ujarnya. Sebagai penyintas radikalisme, Syeh Ali mengaku tetap bersemangat melanjutkan safari dakwah ke kota-kota berikutnya di Indonesia.

Penusuk ialah Alfin Andrian (24), warga Sukajawa Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung. Kapolda Lampung Irjen Purwadi Arianto menjelaskan bahwa penusuk membawa pisau dari rumah.

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan, menyebut Alfin sebagai lone wolf. "Saya dapat kesempatan ngobrol dengan Alfin di tahanan Polda. Dari semua cerita yang diutarakan, Alfin itu lone wolf. Dia melakukan aksi tunggal tanpa afiliasi dengan kelompok radikal manapun," ujar Ken.

Eks pentolan NII itu menjelaskan Alfin mengaku awalnya ialah penggemar Syekh Ali Jaber. Namun setelah pendakwah tenar, penusuk yang merupakan anak broken home itu menilai ceramah yang disampaikan tidak lagi sesuai dengan ideologinya.

Rasa hormat Alfin berubah menjadi benci. Rasa tidak suka itu semakin menjadi sejak pemuda kelahiran 1996 itu rutin menonton video berbau radikalisme di media sosial. "Dia sering ke warnet untuk nonton Youtube. Di warnet, Alfin tidak sengaja bertemu seseorang yang mengenalkannya pada tayangan radikal tentang Timur Tengah," beber Ken.

Sejak itu, Alfin makin marah pada semua hal terkait Timur Tengah termasuk dengan Syekh Ali Jaber. "Dia berpikir ternyata orang Timur Tengah jahat. Alfin selalu panas hati setiap menonton video dakwah Syekh Ali yang dinilai pro pemerintah dan tidak sesuai lagi dengan hatinya," ujar Ken.

Alfin menjelma sebagai lone wolf akibat paparan radikal berbasis teknologi informasi. Doktrinasi dan propaganda di internet menyulut aksi radikal. "Pemuda itu minim perhatian dan pengawasan orang tua. Dia terpapar secara mandiri hingga nekat ingin membunuh," ujarnya.

Data mencatat sejumlah peristiwa lone wolf di Tanah Air yakni penusuk mantan Menkopolhukam Wiranto di Alun-alun Menes Pandeglang (Oktober 2019); bom bunuh diri di Pospam Kertasura (Juni 2019); bom di Sibolga Sambas, Sumatera Utara (Maret 2019); penyerangan anggota Brimob di Masjid Falatehan (Juni 2017); teror di Gereja St Ludwina Sleman (Februari 2017); teror di Gereja Katolik, Medan (Agustus 2016); dan teror terhadap polisi di Cikokol (Oktober 2016).

Menyusup Senyap

Penyusupan radikalisme di era internet of things memupus sekat dan ruang privat. Pengamat intelijen dan terorisme Stanislaus Riyanta mengatakan pola pembelajaran lone wolf saat ini berbeda dengan sebelumnya. "Saya wawancara langsung beberapa remaja yang tersangkut kasus terorisme, termasuk pelaku lone wolf. Sebagian besar mengaku belajar ideologi hingga teknis teror dari internet. Transfer paham radikal dan teror kini tak lagi tatap muka," ujarnya.

Lone wolf mempelajari hal-hal radikal dari internet. Meski tidak mengenyam pelatihan khusus, pelaku mampu menentukan target secara spesifik. "Biasanya modal nekat aja. Karena itu, kebanyakan lone wolf gagal membunuh korban yang ditandai sebagai big fish," kata Stanislaus.

Ia memprediksi, teror lone wolf ke depan bakal meningkat. Aparat wajib menyusun strategi deteksi dini. "Lone wolf jangan dianggap remeh. Pola ini amat sulit dideteksi karena aktivitasnya tidak berkaitan dengan pihak lain. Tidak ada penyusunan rencana bersama jaringan. Aksinya amat senyap," ujar Stanislaus. Peta aksi sulit dipahami karena minim atau bahkan tanpa transaksi keuangan.

Kunci menekan potensi lone wolf adalah dengan memperkuat filter konten media sosial. Kementerian Komunikasi dan Informatika harus memperketat pengawasan. Hasil survei We Are Social dan Hoot Suite pada Januari 2020 menyatakan pengguna internet Indonesia menghabiskan waktu 7 jam 59 menit berselancar di dunia maya. Survei juga menunjukan peningkatan pengguna internet dari 2019 ke 2020 sebesar 17 persen atau sekitar 25 juta orang.

Menurut Stanislaus, pemerintah harus memaknai besarnya jumlah warganet sebagai potensi untuk menebar konten kebangsaan. Inilah momentum yang tepat bagi pemerintah merangkul generasi muda dengan cara-cara milenial.

"Anak muda tidak tertarik membuka website pemerintahan. Mereka lebih suka yang berbau tantangan, semisal cara merakit bom. Itu menjadi tugas pemerintah agar merancang pendekatan yang kekinian sesuai selera milenial," kata dia. Pelibatan anak muda dalam produksi konten nasionalis menjadi keharusan. Pelibatan penting untuk menghadirkan rasa memiliki dan kecintaan pada bangsa.

"Untuk merangkul anak muda jangan buat lomba menyusun karya tulis. Tapi selenggarakan kompetisi vlog dan sejenisnya. Negara harus lebih gencar mendoktrin generasi muda dengan cara khas milenial," ujar Stanislaus. Upaya tersebut dinilai jitu menghalau paparan radikal yang tersebar luas di media sosial saat ini.

Memperkuat Daya Tangkal

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT) Provinsi Lampung Irwan Sihar Marpaung menyatakan survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), indeks potensi radikalisme pada 2019 secara nasional sebesar 38,43 persen. Hasil tersebut lebih rendah dibanding 2017 yang mencapai 55,12 persen.
 
Sejalan dengan indeks nasional, potensi radikalisme di Lampung pada 2017 menempati rangking kedua, dan pada tahun ini membaik ke posisi 16 nasional. Menurut Irwan, indeks tersebut berkaitan dengan karakteristik masyarakat Lampung terbuka terhadap para pendatang. 

"Ada falsafah nengah nyappur, artinya bergaul dan bersahabat dengan siapa saja. Kebaikan itu dimanfaatkan oknum teroris dan radikalis untuk singgah dan menetap baik sementara atau dalam waktu lama di Lampung," kata Irwan. 

Pihaknya gencar menekan radikalisme dan terorisme hingga akar rumput. Ia menilai kelompok radikal dan teror punya kemampuan adaptasi yang kuat sesuai kondisi masyarakat tiap wilayah. Kelompok itu berusaha dengan segala upaya masuk ke kalangan ibu rumah tangga, siswa, hingga kelompok agama.

Kelompok usia yang paling rawan terpapar radikalisme dan terorisme adalah remaja dan pemuda. Kalangan itu tertarik pada hal baru dan suka menantang bahaya. Generasi muda ialah pengguna aktif media sosial yang rentan terpapar konten radikal dari internet.

Irwan menyebut kearifan lokal merupakan tameng pelindung generasi muda dari paparan radikal dan teror. Setiap keluarga diharapkan senantiasa merawat nilai-nilai luhur budaya demi meningkatkan daya tangkal.   

"Pihak yang diharapkan dapat mengenali dan mendeteksi pelaku lone wolf adalah orang terdekat seperti keluarga, tetangga, dan sahabat," ujarnya. Sejumlah indikasi lone wolf antara lain perubahan perilaku menjadi tertutup, menyuarakan narasi radikal, serta termasuk ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu.

Ciri tersebut bisa menjadi dasar pengawasan dan pertimbangan untuk memberikan penanganan yang tepat. Masyarakat diimbau segera berkonsultasi kepada aparat terdekat atau tenaga psikolog untuk mendapatkan pertolongan dini. "Jangan sungkan untuk melapor jika keluarga atau masyarakat menemukan ada perubahan perilaku orang di sekitarnya yang mengarah pada radikalisme," imbau Irwan. Asisten I Pemerintah Provinsi Lampung itu menegaskan kepedulian masyarakat menjadi kunci deteksi dini sekaligus daya tangkap ampuh menghadapi potensi lone wolf. 

Psikolog keluarga, Debri Setia Ningrum menyebut kelekatan keluarga menjadi tameng ampuh menangkal radikalisme. Keluarga harus meningkatkan bonding untuk mengantisipasi gempuran konten negatif internet. "Kelekatan orang tua dengan anak menjadi senjata ampuh menekan potensi munculnya lone wolf," kata dia.

Peningkatan kelekatan itu dimulai dari hal sederhana, seperti berkomunikasi secara langsung, menanyakan kondisi, hingga menawarkan bantuan pada anak. "Berkomunikasilah dan sentuh anak. Kecup kening anak sebelum tidur, bersalaman saat berangkat sekolah. Dengan kebiasaan sederhana itu terciptalah keterbukaan sehingga tiap anggota keluarga bisa saling menjaga dan mengawasi," ujarnya. /*Delima Natalia Napitupulu

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar