#tsunami#selatsunda

Keganasan Tsunami yang Masih Dirasakan Korban

( kata)
<i>Keganasan Tsunami yang Masih Dirasakan Korban</i>
Rumah warga korban tsunami di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, yang belum juga diperbaiki, Minggu, 22 Desember 2019. Lampost.co/Armansyah

Kalianda (Lampost.co) -- Rumah berlantai dua yang terletak di Desa Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, itu masih berdiri dengan kokoh. Namun, ruangan bagian depan terlihat rusak setelah diterjang gelombang tinggi tsunami Selat Sunda.

Hingga kini rumah itu sengaja dibiarkan sang pemilik rumah tanpa diperbaiki. Rumah yang berhadapan langsung dengan pesisir pantai Kecamatan Rajabasa itu merupakan salah satu jejak saksi dan bukti nyata dari kedahsyatan gelombang tsunami yang menyapu dan meluluhlantakkan ratusan rumah di wilayah itu.

Hari ini, Minggu, 22 Desember 2019, bertepatan dengan setahun pascatsunami yang melanda pesisir Lampung Selatan. Meski demikian, peristiwa kelam tersebut hingga saat ini masih menyisakan kepiluan yang amat mendalam bagi masyarakat Lamsel, khususnya para korban.

Selain trauma, masyarakat yang menjadi korban pun kini belum mendapatkan kepastian terhadap janji-janji manis dari pemerintah, mulai dari jaminan hidup hingga pembangunan hunian tetap (huntap). Seperti yang diakui, Agus Abidin (38), salah satu penghuni hunian sementara (huntara) di Desa Way Muli Timur saat disambangi Lampost.co, Minggu, 22 Desember 2019.

Dia mengatakan hingga saat ini ratusan kepala keluarga korban tsunami masih menempati huntara. "Setelah beberapa bulan pascastunami, kami dialihkan dari tenda darurat ke huntara. Berbagai janji pemerintah dilontarkan, seperti pembangunan hunian tetap, namun hingga kini belum ada realisasi pembangunannya," kata dia.

Agus mengatakan bersama korban tsunami lainnya yang masih menghuni huntara mengharapkan realisasi pembangunan huntap sesuai janji pemerintah. Sebab, mereka hingga saat ini masih trauma dengan peristiwa bencana tsunami itu.

"Kami tidak akan mungkin membangun karena di lokasi rumah sudah rata dengan tanah. Itu pun jarak dengan bibir pantai sangat dekat. Kami berharap memiliki huntap yang nyaman tanpa dihantui rasa takut tsunami," kata dia.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar