#lampura

Kala Marbut Kotaalam Lampura Butuh Uluran Tangan untuk Cuci Darah

( kata)
<i>Kala Marbut Kotaalam Lampura Butuh Uluran Tangan untuk Cuci Darah</i>
Turiman yang akrab disapa Mbah Tutur dan berprofesi sebagai marbut terbaring lemah di rumahnya. Kini, dia dirawat istri usai cuci darah di salah satu rumah sakit swasta di Lamteng, Jumat, 29 Juli 2022. (Foto: Lampost.co/Fajar Nofitra)


Kotabumi (Lampost.co) -- Di salah satu sudut kaveling di bilangan Tanjungalam Permai, Kelurahan Kotaalam, Kecamatan Kotabumi Selatan, Lampung Utara, tampak seorang lelaki paruh baya tergolek di pembaringan rumahnya, Jumat, 29 Juli 2022. Namanya Turiman. Namun, warga setempat kerap memanggilnya dengan nama Mbah Tutur. 

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai marbut dan buruh serabutan itu mesti cuci darah dua kali dalam satu pekan karena penyakit yang diderita. Pengobatan itu terpaksa dijalaninya di salah satu rumah sakit swasta di Yukuk, Bandarjaya, Lampung Tengah. Sebab, Rumah Sakit Daerah Ryacudu Kotabumi kuotanya terbatas.

Turiman menuturkan dia dan keluarga harus mengeluarkan biaya sedikitnya Rp300 ribu untuk sekali cuci darah. Sementara itu, penghasilannya diperoleh saat dia menggarap lahan kaplingan untuk menanam ubi kayu. Selain itu, Mbah Tutur mengajar mengaji sekaligus marbut.

Pendapatannya tidak mencukupi untuk membayar biaya pengobatannya yang tidak sedikit. Di sisi lain, anak - anaknya yang telah berumah tangga belum sepenuhnya mandiri. Bahkan, satu anaknya tinggal seatap dengan Mbah Tutur dan bekerja serabutan.

"Ya kadang - kadang ada kerabat berbaik hati. Kemarin tetangga bersedia mengantar tanpa meminta uang. Alhamdulillah. Kalau anak-anak tahu sendirilah, terkadang mereka saja masih butuh biaya dari orang tuanya," ujar Mbah Tutur dengan lirih, Jumat, 29 Juli 2022.

Bahkan, suatu saat Mbah Tutur nekat berangkat sendiri tanpa pendamping anak dan kerabat karena dia tidak mau merepotkan karena terus menerus diantar keluarga. Akibatnya, Mbah Tutur masuk angin dan harus kerokan malamnya.

"Mungkin karena tak mau merepotkan anak atau menantu dia nekat naik bus sendiri ke Bandarjaya. Sudah tua jalan sendiri, kalau ada apa - apa bagaimana," timpal Darlis Johan (30), anaknya yang berprofesi buruh sembari menghela napas.

Dia berharap pemerintah dapat memberi prioritas untuk orang seperti keluarganya. Apalagi Mbah Tutur dan keluarga masuk sasaran Kartu Indonesia Sehat (KIS).

"Harapannya dapat berobat di sini (cuci darah). Supaya mengurangi beban ekonomi keluarga," ujar Darlis.

Wandi Barboy






Berita Terkait



Komentar