#lansia#beritalampung

Kala Lansia Merasa Muda

( kata)
<i>Kala Lansia Merasa Muda</i>
Caption; Nusriyah, Pembina bina keluarga lansia ( BKL ) "Gesang", Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, memandu lansia mengayam pelepah sawit untuk pembuatan tirai dikediamannya, Jumat (13-12-2019). LAMPUNG POST/YUDHI HARDIYANTO

Kotabumi (Lampost.co) -- "Usianya berapa mbah" tanya Lampost.co pada salah satu lansia saat mengikuti kegiatan bina keluarga lansia (BKL) "Gesang" Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, yang dipusatkan di kediaman pembina lansia Nusriyah, di desa setempat, Jumat, 13 Desember 2019.

"Masih 28 tahun, mas," jawab mbah Slamet (82) yang telah memiliki 6 anak, 15 cucu dan 5 cicit sambil tertawa dan terlihat beberapa giginya telah tanggal. Secara berseloroh, kawannya menimpali "Jangan didengarkan mas, dia memang agak genit, 28 tahun itu sisa umurnya,". Spontan, di dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu terdengar hinggar oleh tawa mereka.

Itu adalah potret aktivitas yang dilakukan BKL "Gesang" yang dibentuk pada 2011 lalu. Sebagai wadah silaturahmi dan sosialisasi, sekaligus pemberdayaan bagi kaum lansia agar produktif.

Nusriyah, Pembina BKL "Gesang", Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, mengatakan, di sini, mereka (lansia-red) merasa berguna. Wadah ini telah memberikan semangat baru untuk terus berkarya dalam keterbatasan fisik dan pemikiran yang dialami.

"Keluhan yang disampaikan para lansia yang terhimpun di wadah ini adalah keberadaan mereka di keluarga dan masyarakat merasa kurang dibutuhkan.  Padahal, mereka  (lansia-red) memiliki kelebihan, yakni kebijaksanaan. Serta ingin berbuat sesuatu agar  didengarkan dan dihargai," ujarnya.

Upaya meningkatkan kualitas hidup 40 anggota lansia, BKL "Gesang" adalah mengembangkan kerajinan anyaman pelepah sawit dengan pertimbangan kesediaan bahan baku, yaitu; pohon sawit tersedia melimpah di desa setempat.

Tahap awal pengerjaan kerajinan yang dilakukan lansia usia 60 tahun ke atas ini, yakni; pembuatan tirai dari pelepah sawit sedangkan lidinya digunakan untuk membuat piring makan dan keranjang buah.

"Hal yang unik di BKL "Gesang" adalah media untuk mengumpulkan lansia di wilayah desa melalui pemukulan kentongan. Saat mendengarkan kentongan, mereka pasti akan segera berkumpul di tempat saya," kata Nusriyah.

Disinggung harga jual produk bikinan lansia yang ditawarkan cukup terjangkau. Untuk tirai ukuran 2 meter x 1 meter dijual Rp25 ribu, ukuran 2 meter x 2 meter dihargai Rp50 ribu. Dilanjutkan anyaman piring makan, satu kodi dihargai Rp100 ribu sedangkan keranjang buah besar Rp 15 ribu dan keranjang kecil Rp 10 ribu.

Untuk pembuatan kerajinan, pihaknya tidak terpaku pada target produksi dan keuntungan. Hanya kebahagiaan utama bagi lansia saat mengerjakannya.S edangkan hasil penjualan sebagian untuk kegiatan sosial seperti pengajian maupun kegiatan hiburan bagi kalangan mereka sendiri .

“Lansia tertua yang setia berkiprah pada kegiatan ini  adalah pensiunan PNS berusia 102 tahun dan yang paling tua berusia 108 tahun,"  tuturnya.

Khusus bagi lansia yang sudah tidak dapat beraktifitas karena sakit, pihak pendamping bersama tim kesehatan dari Puskesmas Kemalo Abung akan melakukan kunjungan dikediamannya. "Tercatat sudah ada tiga anggota BKL yang sudah tidak dapat lagi beraktifitas," kata dia lirih.

Baginya, hal terpenting adalah bagaimana membuat mereka tetap berguna dan tersenyum di usia senja.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar