#Sosial#Bendungan#Palaspasemah

Kala Bendungan Palaspasemah Bak Pasar Tradisional

( kata)
<i>Kala Bendungan Palaspasemah Bak Pasar Tradisional</i>
Puluhan masyarakat Desa Palaspasemah, Kecamatan Palas, Lampung Selatan saat mencari ikan dibendungan desa setempat, Kamis, 13 Februari 2020. (Armansyah/Lampost.co)

Kalianda (Lampost.co) -- Bendungan di Desa Palaspasemah, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, tiba-tiba ramai dipenuhi pengunjung, Kamis, 13 Februari 2020. Bendungan sungai Way Pisang itu mendadak ramai bak pasar tradisional.

Betapa tidak, masyarakat yang sengaja datang itu berjejer di tepi sungai Way Pisang yang dibangun era tahun 80-an itu. Bahkan, mereka sengaja membuat tenda darurat untuk berteduh.

Dari puluhan masyarakat yang memadati bendungan itu nampak seorang pria tengah sibuk menuangkan ikan berukuran kecil yang ia dapatkan dari sungai itu. Pria itu adalah Harmidi namanya.

Ia bersama sang istri sengaja datang ke bendungan itu untuk mencari ikan yang mereka sebut ikan julung-julung dan ikan palau. Usai banjir beberapa hari lalu, bendungan di desa itu justru berubah menjadi ladang mencari nafkah masyarakat setempat.

"Kami di sini mencari ikan di bendungan. Bahkan, sudah menjadi ajang tahunan kalau sudah banjir. Pasca banjir, ikan dari Sungai Sekampung naik mengikuti aliran Sungai Way Pisang hingga ke bendungan ini. Ikannya sangat berlimpah dan gampang didapatkan," kata dia.

Menurutnya hanya ada dua jenis ikan tangkapan yang banyak didapatkan masyarakat, yakni ikan julung-julung dan ikan palau. Untuk mendapatkan ikan itu, ia bersama masyarakat lainnya hanya menggunakan alat tangkap disebut tangkul. Alat tangkap ikan itu berupa jaring persegi empat dengan bingkai bambu yang dicelupkan hingga ke dasar sungai.

"Banyak yang pakai tangkul. Sebagian pakai jaring yang masuk kedalam sungai untuk menangkap ikan yang lebih banyak," kata dia.

Dalam sehari, kata dia masyarakat yang berburu ikan di bendungan tersebut rata-rata bisa memperoleh hasil tangkapan 10 – 15 kilogram. Ikan yang ditangkap bisa langsung dijual  kepada pengepul  yang sudah menanti di tepi tanggul bendungan.

Ikan yang memiliki nilai jual tinggi yakni ikan julung-julung dengan harga Rp 15.000 per kilogramnya. Sementara itu, ikan palau karena mimiliki rasa sedikit pahit hanya diberi harga Rp 5.000 per kilogram. Selama sepekan terakhir, Harmidi bersama istrinya bisa memperoleh penghasilan hingga Rp300 ribu per hari.

"Ikan nya bisa langsung dijual kepada pengepul. Kalau dua hari lalu ikannya julung-julung semua yang agak mahal. Tapi sekarang banyak ikan lais yang naik ke Sungai Way Pisang. Adapula masyarakat yang menjual ikan berkeliling," kata dia.

Menurutnya menangkap ikan di Bendungan tersebut menjadi berkah tersendiri setelah bencana banjir yang disebabkan luapan Sungai Way Pisang pada akhir Januari lalu. "Jadi berkah setelah bencana banjir kemarin, Mas. Selain bisa mengisi waktu luang sehabis musim tanam, mencari ikan juga menjadi penghasilan tambahan," kata dia.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar