#hama#sayuran

Hama Busuk Pangkal Batang Pupuskan Asa Dapatkan Untung

( kata)
<i>Hama Busuk Pangkal Batang Pupuskan Asa Dapatkan Untung</i>
Supriyanto, petani sayur, warga Dusun 2, Desa Ratuabung, Kecamatan Abung Selatan, menunjukkan sisa tanaman daun bawang yang terserang penyakit busuk pangkal batang di lokasi budi daya, Jumat (3-1-2020). Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co) -- Pria paruh baya tertunduk lesu saat memandang hamparan seribu polybag di lokasi budi daya tanaman daun bawang yang siap panen sekitar dua minggu ke depan. Harapannya mendapatkan keuntungan pupus akibat serangan busuk pangkal batang.

Supriyanto, petani sayur, warga Dusun 2, Desa Ratuabung, Kecamatan Abung Selatan, mengatakan seribu polybag tanaman daun bawang berusia 2 bulan miliknya terserang busuk pangkal batang sekitar 10 hari yang lalu. Serangan hama yang tidak diketahui namanya tersebut menyebabkan tanaman yang ditanam mati.

"Dari seribu polybag hanya tersisa 15 dan itu pun sebentar lagi akan mati," ujarnya saat ditemui di halaman rumahnya yang menjadi lokasi budi daya, Jumat, 3 Januari 2020.

Dia mengaku telah mencoba menanggulangi serangan hama tersebut dengan menyemprotkan pestisida di beberapa tanaman. Namun, itu justru mempercepat tanaman layu dan akhirnya mati.

"Awal serangan, pucuk daun bawang menguning, setelah itu batangnya membusuk dan daunnya mulai mengering sebelum akhirnya tanaman itu mati. Karena saya tidak tahu obatnya, tanaman yang sudah 90 persen terserang langsung saya cabut serta tanahnya dibersihkan" katanya.

Dia mengaku dari seribu polybag, biasanya meraup pendapatan kotor sekitar Rp3 juta setiap 2,5 bulan dengan harga per kilo daun bawang Rp12 ribu.

"Sudah habis uang untuk beli pupuk kandang sekitar 3 kuintal senilai Rp120 ribu, belum biaya perawatan ditambah biaya pestisida, namun semuanya sia-sia," lirihnya.

Dia berharap penyuluh pertanian datang melihat kondisi yang terjadi di lapangan. Sebab, serangan busuk pangkal batang yang menyerang tanaman daun bawang itu juga dialami beberapa petani sayur di desa setempat.

"Petani di sini butuh pencerahan untuk penanggulangan serangan penyakit tersebut. Sebab, kami tidak tahu nama penyakitnya dan obatnya apa," katanya.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar