#odgj#feature

Gubuk Mungil Teman Kesendirian Teh Sumi

( kata)
<i>Gubuk Mungil Teman Kesendirian Teh Sumi</i>
Gubuk di lereng yang cukup curam menjadi "istana" bagi penderita ODGJ Sumiati menjalani hidup. Lampost.co/Putri Purnama


Liwa (Lampost.co) -- Gubuk papan dan bambu dengan beratapkan seng itu berada tepat di lereng sebuah bukit di Pemangku 15 Talang Delapan, Pekon Tanjungraya, Kecamatan Sukau. Dalam ruangan berukuran berukuran 2 x 1 meter itulah, Sumiati (35) tinggal dan menjalani hidup jauh dari keramaian.

Bukan tanpa sebab, Teh Sumi, begitu dia disapa, harus menjalani "keterasingan" karena sebuah cap di dahinya “orang gila”. Meski tempat tinggalnya sungguh buruk, Teh Sumi, sangat jarang keluar.

Posisi gubuk yang dibangun pada lahan dengan kemiringan curam memang membuat siapa pun segan keluar masuk dari sana. Pun pada Selasa sore, 17 November 2020, saat sekelompok awak media massa berkunjung ke sana, Sumi tak banyak bergerak dan hanya berdiam di "istana kecilnya".

Hujan yang mengguyur wilayah Dusun Talang Delapan sore itu praktis menyebabkan aktivitas Sumi “terkunci” di gubuknya. Selain curam, jalan tanah menuju gubuk Sumi jadi sangat licin akibat hujan.

Tiga awak media televisi swasta terpeleset, terbanting, bahkan jungkir balik ketika nekat turun untuk mengambil gambar. Meski harus berjuang ekstra, kunjungan awak media sore itu menerbitkan sungging senyuman di bibir Sumi.

Bak bocah yang selalu lapar, Sumi semringah menerima beberapa pak kue kering. Dengan spontan, Teh Sumi minta dibuatkan kopi.

Hayang ngopi euy. Pan loba dahareun,” (Ingin ngopi. Kan banyak camilan) ujarnya polos dalam dialek Sunda.

Hari itu Sumi mengenakan atasan kemeja berwarna pink dan bawahan semacam handuk yang sudah usang dimakan waktu. Nyaris tak ada apa pun dalam biliknya.

Ia melipat kakinya karena udara dingin yang masuk dari sela-sela dinding bambu yang tak rapat. Berlantai tanah dan beratap seng, udara dingin yang menusuk hingga tulang ketika malam tiba selalu menghantui bilik Teh Sumi.

Apalagi, bilik ini tak memiliki penerangan apa pun. Jangankan bohlam lampu listrik, sentir usang pun tak ada. Mungkin cuma kodok, kalong, dan Teh Sumi, yang tak suka terang yang menghangatkan.

Dari pengakuan Mat Nur (41), kakak kandung Sumi, didapat keterangan sudah lebih dari tiga tahun perempuan paruh baya ini tinggal di gubuk derita di lereng curam tersebut. Mat Nur berdalih tak ada lahan datar tersisa dari sepetak kecil tanah warisan orang tua mereka yang dapat disisihkan bagi Sumi. Sebab itu, ia merelakan adik semata wayangnya itu tinggal di tebing curam di samping rumahnya.

Bukan bentuk dan letaknya, mirinya lagi gubuk Teh Sumi juga tak memiliki MCK. Untuk mandi atau buang hajat, pasien yang didiagnosis ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) ringan ini selalu menuju kubangan air yang terletak beberapa meter di bawah gubuknya. Terlihat jelas air yang digunakan keruh dan kotor dengan warna cokelat bercampur lumpur, terlebih setelah turun hujan.

Masih menurut Mat Nur, adiknya diduga telah mengalami gangguan kejiwaan selepas sekolah dasar. “Tapi dulu tidak parah. Makanya sempat menikah dan punya anak,” kata Mat Nur.

Meski pernah berumah tangga, Sumi tak pernah mengantongi surat nikah. Bahkan, dia tidak memiliki selembar pun kartu identitas, seperti KTP atau kartu keluarga.

Kondisi kejiwaan Sumi terlihat bertambah parah sekitar 16 tahun silam ketika ditinggal pergi suami dan putri kesayangannya bernama Munah. Meski sempat menikah lagi dengan penyandang bisu tuli dan dikaruniai seorang putra (kini delapan tahun), tidak mengubah kondisi kejiwaan Sumi. Apalagi, sejak tiga tahun lalu suami kedua dan putranya bernama Pani juga memilih meninggalkan Sumi.

Meski sakit, Sumi tak diobati secara serius. Mat Nur yang merupakan satu-satunya kerabat Sumi mengaku tak berdaya menghadapi kondisi tersebut. Penghasilannya sebagai buruh tani dan pedagang buah musiman tak mampu membiayai pengobatan Sumi. Apalagi, Mat Nur sekeluarga menyandang status keluarga prasejahtera yang rutin disantuni pemerintah.

Kesulitan ekonomi ini diperparah buruknya administrasi kependudukan Sumi. Karena tidak memiliki selembar pun dokumen kependudukan, pasien ODGJ ini tidak memiliki KIS PBI (Kartu Indonesia Sehat Penerima Bantuan Iuran). Bahkan, Sumi selalu luput dari berbagai bentuk bansos yang kini gencar digulirkan pemerintah di tengah pandemi.

Satu-satunya pengobatan yang diterima Sumi adalah layanan obat gratis penyandang ODGJ dari Puskesmas Kecamatan Sukau. Menurut Mat Nur, dua atau tiga bulan sekali mantri puskesmas datang memberi obat atau memerintahkan Mat Nur turun ke puskesmas mengambil obat.

Namun, sudah dua bulan belakangan, Sumi tak minum obat. Obat yang dulu diberikan sudah lama habis, sedangkan jatah yang baru tak kunjung tiba.

Kisah muram ini tak berhenti sampai di situ. Sejumlah tetangga Sumi di Pemangku 15 Talang Delapan, Pekon Tanjungraya, Kecamatan Sukau, sering didatangi sang ODGJ sambil menangis dan mengaku kelaparan.

“Suka nangis kalo keliling minta makan. Katanya lapar. Tapi gitu aja, gak pernah ganggu, gak pernah ngamuk. Biasanya nyambung kalau diajak ngobrol,” ujar seorang warga yang menolak disebut identitasnya. 
 
Warga sekitar justru lebih setuju jika Teh Sumi disebut warga telantar ketimbang dicap “orang gila”. Bahkan warga percaya, jika dikembalikan pada hunian yang manusiawi dan mendapat perhatian sewajarnya, Sumiati diyakini dapat hidup normal di tengah-tengah lingkungannya. 

Di sela ocehannya yang tampak waras, Sumiati merintih. Ia mengiba pada nasib agar memberinya sedekah, dan ia menyebut nama-nama. Mungkin nama putri kesayangannya, juga putranya, atau justru nama kita semua yang dapat menolongnya. 

Dari kisah Sumiati mungkin Indonesia layak bercermin agar manusia ditempatkan lebih berharga ketimbang selembar kertas bernama dokumen kependudukan. Agar warga yang menderita tetap tersantuni subsidi negara meski mereka tak terdata. Sebab, apalah artinya data dibandingkan jiwa yang tersandera.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar