#Kiliner#Jajanan#Es-Cincau

Es Cincau Sederhana Farida ‘Rasa’ Dua Dekade

( kata)
<i>Es Cincau Sederhana Farida ‘Rasa’ Dua Dekade</i>
Farida melayani pesanan pelanggannya di sudut ruas jalan persimpangan Saprodi, Desa Candi Mas, Kecamatan Abung Selatan, Sabtu, 16 November 2019. (Foto: Yudhi Hardiyanto/Lampost.co)

Kotabumi (Lampost.co) -- Perempuan paruh baya itu dengan cekatan menyajikan es cincau hijau racikannya. Ia bukanlah penjual es dadakan pada musim kemarau.

Keterampilannya itu telah terasah dua dekade lamanya. Farida namanya. Ia biasa berdagang di sudut ruas jalan persimpangan Saprodi, Desa Candi Mas, Kecamatan Abung Selatan.

"Segernya nampol, dingin ngademin perut" ucap Farida, Sabtu, 16 November 2019.

Warga Desa Candi Mas, Kecamatan Abung Selatan, tersebut mengaku bersama suaminya, Amat Sarmin, sudah 28 tahun berdagang. Selama itu pula ia meracik dagangannya dengan resep sederhana.

"Sejak awal mengarungi bahtera rumah tangga dengan Mas Amat, pada 1994 lalu, saya bersama suami memulai usaha berdagang es cincau keliling kampung," ujarnya.

Dari hasil berdagang ia telah memiliki tiga gerobak untuk jualan es. Bahan pembuatan es yang dijajakan, sangat sederhana, yakni; daun cincau yang di campur dengan air untuk di ambil sari cincaunya, sementara ampas daun di buang.

Untuk topping tambahan, menggunakan gula aren yang dicairkan, santan kelapa, krimer dan es serut. Demikian Farida menjelaskan resep es cincau sederhananya itu dengan gamblang.

Cincau hijau buatannya itu ia jamin merupakan produksi usaha rumahan tanpa bahan pengawet yang hanya mampu bertahan sekitar 15 jam di suhu ruang. Lebih dari itu, mesti dibuang karena cincau telah berubah rasa dan warna.

“Resep pembuatan untuk memulai usaha itu, sangat sederhana dan mudah. Tidak serumit resep kuliner. Namun, masalah cita rasa dari minuman, tergantung kualitas bahan dan takaran pembuatan sebelum disajikan ke pelanggan," kata dia.

Di singgung omzet penjualan, dia mengaku, untuk satu hari pergerobaknya  terjual rata-rata sekitar 300 gelas dengan harga pergelas di patok Rp4 ribu saja.

"Mmusim kemarau ini, omset penjualan es cincau melonjak dan dagangan saya setiap hari terjual habis, bahkan sering kali kurang. Tapi kalau musim penghujan, sering tidak habis, bahkan saya beberapa kali pernah mengalami dari pagi sampai sore berjualan tidak laku satu gelas pun," tuturnya.

Selain dijual keliling, ia juga melayani pemesanan untuk acara seperti; pernikahan, ulang tahun, sunatan maupun arisan. Farida menawarkan harga per paket Rp500 ribu dengan takaran dua termos es berikut cincau, air gula merah, santan dan krimer.

"Kalau dibeli untuk dijual kembali, harga yang ditawarkan merujuk hasil kesepakatan bersama dan saya berharap dari usaha ini dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain sekaligus membawa keberkahan bagi keluarga serta empat anak hasil buah hatinya," kata dia tersenyum.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar