#viruscorona#viruskorona#kesehatan#beritalampung

Dilema Pedagang di Tengah Wabah Korona

( kata)
<i>Dilema Pedagang di Tengah Wabah Korona</i>
Amina, pedagang buah di Pasar Bambu Kuning harus menerima kenyataan, sebab dagangannya sepi pembeli akibat wabah virus korona. Lampost.co/Atika Oktaria

Bandar Lampung (Lampost.co): Suasana sepi menyelimuti Pasar Bambu Kuning, Tanjungkarang, Bandar Lampung. Bagaimana tidak, pasar yang biasanya ramai dikerumuni pembeli dari pagi hingga sore kini harus berharap lebih karena saat siang hari pun pengunjung hanya sedikit.  

Sejumlah pedagang kepada Lampost.co mengaku pendapatannya yang semula bisa mencapai Rp500 ribu perhari, kini untuk mendapat uang Rp100 ribu pun sudah dirasa cukup karena situasi yang sangat berubah dari hari biasanya akibat pandemi korona atau covid-19.

Pemasukan yang biasanya dapat diputar untuk penjualan hari esok kini hanya dapat di diperoleh untuk makan sehari-hari. Bahkan tak sedikit toko yang memilih untuk menutup sementara dagangannya karena sedikitnya pemasukan.

"Di pasar ini saya jual buah, biasanya di hari biasa saya bisa mendapat penghasilan Rp500 ribu dan nantinya uang itu untuk keperluan rumah tangga dan sisanya untuk memutar dagangan dikeesokan hari. Tapi, sekarang dapat uang Rp100 ribu saja sudah bersyukur karena sangking sepinya," kata Amina (60) pedagang buah di Pasar Bambu Kuning, Minggu, 29 Maret 2020.

Tak hanya untuk sekitaran toko, di lahan parkir pun hanya terlihat beberapa motor terparkir. Untuk toko pakaian juga demikian. Banyak pedagang mengeluh tak ada pemasukan yang biasanya. Bahkan ada toko yang sama sekali tidak disentuh pembeli.

Tatapan sayu pun mulai tampak saat Amina menceritakan bahwa tak cuma sekali dagangannya kadang tak laku dan dengan sangat terpaksa harus dibuang.

"Sudah mulai sepi hampir dua minggu, kan saya dagang buah. Pernah tiga hari berturut-turut gak laku. Jadi mau gak mau dibuang.Yah, ini untuk putar dagangan baru saya hutang dulu sama agen buahnya," katanya lirih.

Sesekali terlihat ia merapihkan buahnya atau sekedar memastikan debu yang tak menempel dibuahnya. Penampakan ini tak hanya oleh seorang pedagang saja, karena pedagang lain pun mengeluhkan hal yang sama.

Nampaknya arahan social distancing bukan acuan bagi para pedagang ini. Sebab, jika mengikuti arahan pemerintah untuk berdiam di rumah, dirasa akan mencekik satu keluarga yang kebingungan untuk membeli makan karena penghasilannya adalah dari berdagang.

"Semoga wabah ini cepat segera berlalu. Agar masyarakat mau aktivitas lagi, dan berbelanja lagi dengan tenang, jadi dagangan saya pun laku," ujar Amina.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar