#kemarau#kekeringan#hewanternak

Berburu Rumput di Musim Kemarau

( kata)
<i>Berburu Rumput di Musim Kemarau</i>
Warga pemburu rumput untuk pakan ternak. Lampost.co/Perdhana Wibisono

Kalianda (Lampost.co): Musim kemarau yang berlangsung panjang seperti saat ini, bagi warga yang memiliki hewan ternak sangat sulit mencari rumput untuk pakan hijau.

Mereka harus mencari pakan ternak dengan menempuh perjalanan belasan kilometer hanya untuk mendapatkan saru karung rumput yang sudah tidak segar lagi. 

Lokasi rumput yang diburu warga meliputi hamparan padang rumput atau areal sawah yang sudah selesai dipanen. 

Semakin hari, rumput yang dicari tambah sulit didapatkan, karena kondisi cuaca kering akibat hujan tak kunjung turun. Sementara kebutuhan pakan semakin tinggi. 

Sejak pagi hari, secara berkelompok warga yang mencari rumput sudah mulai menuju padang ilalang yang sudah mengering. "Hari ini kami berenam nyari rumput ke Kecamatan Candipuro," ujar Hartanto (48) salah seorang warga Desa Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Kamis, 31 Oktober 2019.

Untuk mendapatkan sekarung rumput, kata Hartanto, memakan waktu paling sebentar setengah hari, itupun jika sudah diketahui lokasinya. Apabila bernasib bagus, mendapatkan rumput bisa lebih sekarung. 
"Kalau lokasi sudah diketahui, setengah hari sudah selesai. Minimal satu karung yang dibawa pulang," ujarnya. 

Rumput yang dicari setiap hari untuk pakan dua ekor sapi miliknya. Dalam sehari, sedikitnya menghabiskan satu karung rumput untuk hewan ternaknya. "Kalau kurang makan, malam hari sapinya berisik," ujarnya. 

Hal senada diungkap warga lainnya, jika mencari rumput hingga puluhan kilometer setiap hari menggunakan sepeda motor untuk pakan ternak kambing miliki. "Kadang nyari rumput sampai ke Kecamatan Sragi," kata Suhedi (51).

Saat musim kemarau, sudah menjadi tradisi warga yang memiliki ternak mencari rumput hingga keluar daerah setempat. "Tapi tahun ini, nyari rumput cukup lama, karena hujan belum turun juga," kata dia.

Padahal, menggunkaan pakan ternak fermentasi yang berasal dari daun kering dapat menjadi alternatif bagi para peternak. Namun, pria paruh baya itu mengaku tidak mengetahui proses pembuatannya.
"Kurang paham, tapi enggak masalah kami ngarit jauh, sekalian jalan-jalan," kata dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar