#feature#beritalampung

Amanat Ibu Kuatkan Arya Mengurusi Kakak yang Miliki Keterbatasan Fisik

( kata)
<i>Amanat Ibu Kuatkan Arya Mengurusi Kakak yang Miliki Keterbatasan Fisik</i>
Muhamad Arya (batik cokelat) terus menjaga dan mengurus sang kakak yang memiliki keterbelakangan mental. Lampost.co/Deta Citrawan

LAYAKNYA sebuah amanat yang diberikan kepada seseorang harus dipenuhi. Terutama bagi umat Islam, amanat merupakan sebuah kepercayaan yang amat berarti sebagai bentuk seberapa besar tingkat iman seorang muslim bergantung dari seperti apa ia menjalankan amanat yang diberikan.

Itulah yang hingga saat ini dipegang dengan teguh oleh Muhammad Arya (12), amanat yang dipercayakan oleh anak remaja itu berasal dari sang ibu yang kini telah tiada sejak 2 tahun lalu,  dikarenakan menderita penyakit stroke.

"Awalnya kami tinggal bertiga disini, kemudian Ibu sakit stroke. Lalu saya sendirian merawat ibu dan kakak. Setelah 2 tahunan ibu sakit, ia meninggal. Dan ibu memberikan amanat kepada saya tolong jagain kakak, begitu kata ibu sebelum meninggal," ucap Arya dengan berlinang air mata, Jumat, 13 September 2019.

Sejak saat itu, Arya mulai merawat kakaknya bernama Riski (21). Mulai dari memandikan, menyuapi dan sekaligus memberikan kasih sayang sebagai penganti ibu di sebuah rumah semi permanen di Jalan Bungur RT 1 Lingkungan 2, Langkapura, Kemiling, Bandar Lampung.

Siswa dari kelas sembilan SMP Negeri 32 Bilabong ini harus mengurus kakak tirinya seorang diri yang mengalami keterbelakangan mental dan keterbatasan fisik sejak lahir. Di kala teman sebayanya sibuk bersekolah atau bermain, Arya harus menjalani kehidupan yang berbeda.

Sedangkan, Arya masih memiliki ayah kandung namun nahas, sang ayah tinggal di tempat berbeda dan tak terdengar lagi kabar berita. Alhasil, Arya yang masih remaja itu harus berjuang sendirian merawat sang kakak yang sakit dan membagi waktu sekolah dan belajar.

"Saya inget dulu ayah ibu sering ribut. Lalu ayah pergi sampai sekarang enggak pulang. Ayah dari kecil nggak pernah ngurusin sama sekali, tidak peduli sama kam. Jadi ibu itu saya anggap dua sosok ayah dan ibu," tuturnya.

Anak yang sudah 3 kali juara membaca Alquran itu mengaku anak ke-7 dari 9 bersaudara yang dilahirkan dari rahim ibunya, namun dari ayah yang berbeda. Meski masih memiliki sejumlah orang kakak, semua keluarganya sudah berkeluarga dan memiliki kesibukan masing-masing.

Dari bantuan seorang kakak perempuannya, Arya dan si kakak mampu memenuhi kehidupan hidup sehari-hari. Namun, tak jarang para tetangga memberi bantuan ala kadarnya. "Kadang mbak saya yang suka ngasih uang jajan buat sekolah, kalau makan kadang suka dikasih sama tetangga, dibantu tiap hari untuk makan," ungkapnya.

"Harapan saya ingin sekolah setinggi tingginya, sampai dengan kuliah. Saya punya cita-cita ingin jadi pegawai negeri, supaya bisa terus mengurus kakak saya. Supaya nanti bisa mengobati kakak," imbuhnya.

Ketika sedang belajar di sekolah pun, perhatian Arya tak lepas dari kakaknya yang ditinggal dirumah sendirian dan dikunci dari luar, ia merasa ingin lekas sampai dirumah agar segera bisa bertemu dengan Riski kakaknya untuk melihat kondisinya.

"Saya sedih banget melihat kondisi kakak saya, kalau di sekolah suka kepikiran, eggak fokus belajarnya karena dia (Riski) sendirian dirumah. Nggak ada yang jaga dia, terkadang gitu. Kalau saya pulang sampai dirumah dia sudah jatuh sudah luka-luka," kata Arya sambil sesekali mengusap air mata.

Pernah terbesit dalam benaknya, ada rasa iri dari kehidupan orang lain yang memiliki keluarga lengkap, berkecukupan serta bisa menikmati masanya bermain sepulang sekolah. Arya memiliki rasa ingin marah, dan menyalahkan ketidak adilan hidup. Namun pikiran buruk itu surut, kala memandang Riski bahwa hidup itu terus maju dan harus dijalani.

"Saya pernah merasa nggak kuat, pernah timbul bahwa Tuhan itu nggak adil. Tapi saya bersyukur masih diberikan kehidupan, dan Tuhan memberikan cobaan seperti ini kepada saya karena saya kuat," kata Arya sambil berlinang air mata.

Meski Arya merasa Riski tidak mungkin bisa sembuh, namun ia tetap ingin kakak dari Ayah tiri nya itu bisa mendapatkan pengobatan. Untuk mengobati luka luka yang ada di sekujur kakinya akibat jatuh dari kasur.

"Kak Riski kan punya darah manis, jadi kalau ada luka kecil lama lama menjadi besar. Sehingga saya  ada permohonan kepada pemerintah untuk memberikan perhatiannya dari segi bantuan medis, karena kakak saya layak untuk mendapatkan itu," harapnya.

Selain itu, kepada pemerintah Arya juga berharap mendapatkan perbaikan rumah dan bantuan pendidikan, mengingat sebentar lagi ia akan mengenyam bangku pendidikan Sekolah Menengah atas.

"Saya sebenarnya dalam benak saya minta tolong kakak saya ini mendapat perhatian dan kasih sayang dari keluarga, bukan hanya dari saya saja. Dan kepada pemerintah saya ingin rumah saya ini, bisa jadi layak dan juga saya ingin bisa bersekolah tinggi," pungkas dia.

Deta Citrawan

Berita Terkait

Komentar