krisisisrael-lebanontimurtengah

Hizbullah Tolak Perundingan Israel-Lebanon

( kata)
Hizbullah Tolak Perundingan Israel-Lebanon
Hizbullah. Foto: Naharnet.


Tripoli (Lampost.co) -- Pejabat Israel dan Lebanon kembali bertemu untuk memulai pembahasan demarkasi perbatasan yang dimediasi PBB dan Amerika Serikat. Pertemuan kedua negara hanya berlangsung sejam.

Sesaat sebelum pertemuan dimulai, kelompok Hizbullah dan sekutunya, Amal, mengkritik langkah tersebut. Pernyataan dari dua partai utama Syiah di Lebanon itu menyerukan reformasi tim perunding.

Menurut mereka, tim perunding harusnya hanya diisi pejabat militer, bukan warga sipil atau politisi.

Dilansir dari The National, Rabu, 14 Oktober 2020, kedua negara tidak memiliki hubungan formal dan tidak pernah secara resmi mengakhiri permusuhan. Hizbullah kerap melancarkan pemberontakan melawan pendudukan Israel di Lebanon selatan sampai mereka mundur pada 2000. Pada 2006, kedua pihak kembali bertempur.

Pertemuan ini digelar di pangkalan UNIFIL di Naqoura, markas kecil penjaga perdamaian PBB di ujung pantai selatan Lebanon.

"Bentuk delegasi Lebanon saat ini, yang mencakup tokoh sipil, bertentangan dengan kesepakatan kerangka kerja," kata kantor pers Hizbullah dalam sebuah pernyataan.

Mereka menambahkan kerangka kerja saat ini didasarkan pada pertemuan reguler antara perwira militer secara eksklusif.

"Ini mewakili pengakuan logika Israel yang ingin mendapat bentuk normalisasi. Karena itu kedua pihak menyerukan untuk segera mencabut keputusan dan melakukan konfigurasi ulang delegasi sesuai kerangka kesepakatan," ujcar Ketua Parlemen, Nabih Berri.

Lebanon dan Israel sepakat merundingkan perselisihan berkepanjangan terkait perbatasan laut yang melintasi perairan Mediterania, yang berpotensi kaya gas. Keduanya sepakat kembali bertemu pada 28 Oktober mendatang.

Medcom







Berita Terkait



Komentar