#DBD#hujan

Hingga September, Kasus DBD di Bandar Lampung Capai 109

( kata)
Hingga September, Kasus DBD di Bandar Lampung Capai 109
Petugas melakukan fogging untuk mengantisipasi kasus DBD. Dok. Lampost.co/Febi H


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Jumlah angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bandar Lampung sampai dengan akhir September 2021 mencapai 109 kasus.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung, Desti Mega Putri mengatakan, berdasarkan data per September lalu jumlah angka kasus DBD sebanyak 109.

"Dari data yang ada dan telah kami himpun per Juli kasus DBD di Bandar Lampung sebanyak 35, Juli 27 kasus, Agustus 24 kasus, dan sampai akhir September terdapat 23 kasus," ujarnya, Jumat, 5 November 2021.  

Menurutnya dalam beberapa bulan ini kasus DBD di Kota Tapis Berseri terjadi tren penurunan kasus, tentu hal itu menjadi kabar baik dalam hal penanganan DBD selama ini.

Meski demikian Dinas setempat terus ingatkan kepada warga dan mewaspadai adanya peningkatan kasus di bulan Desember mendatang, tergantung pada perubahan cuaca yang terjadi.

"Untuk data sampai akhir Oktober ini masih dalam proses pendataan, kemungkinan di minggu kedua data kasus sudah terhimpun," kata dia.  

"DBD ini berdasarkan pengalaman yang ada peningkatan kasusnya terjadi dalam siklus lima tahunan, maka yang paling bentuk dalam hal pencegahan adalah kesadaran masyarakat untuk hidup sehat," tambahnya.

Seperti berkaca pada 2020 lalu, jumlah total kasus DBD di Kota Bandar Lampung tercatat sebanyak 1.000 kasus, tanpa adanya data kematian warga akibat DBD itu sendiri.

"Oleh sebab itu kami menganjurkan masyarakat menerapkan pola 3M Plus untuk tindakan pencegahan. Selain itu juga, kami lewat kader dan promkes berikan edukasi ke masyarakat agar perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemberian bubuk Abate di Puskesmas," kata dia.  

Untuk tindakan pengasapan atau fogging, itu jarang dilakukan sebab apabila suatu daerah dinyatakan endemik DBD, barulah tindakan fogging perlu dilaksanakan. Dan untuk pengentasan nyamuk Aedes aegypti sebagai pembawa virus DBD dilakukan mulai sejak jentik.

"Kami ada program 1 R 1 J, satu rumah satu Jumantik, ketika ditemukan jentik maka Jumantik yang merupakan seorang dari Kepala Keluarga (KK), harus membuang jentik dalam upaya membasmi dan di laporkan juga ke puskemas agar bisa diberikan penanganan selanjutnya terkait jentik nyamuk ini. Sehingga tindakan pencegahan dan antisipasi lebih maksimal dilakukan sejak dari nyamuk masih dalam bentuk jentik," ujar dia.

Winarko







Berita Terkait



Komentar