#hijrah#setitikair#nuansa#isramikraj

Hijrah

( kata)
Hijrah
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

PADA 3 April mendatang, umat Islam akan memperingati Isra Mikraj. Momen bersejarah itu adalah peristiwa penting bagi umat muslim, karena saat itu Nabi Muhammad saw menerima perintah salat lima waktu sehari semalam.

Dilansir dari wikipedia.org, Isra Mikraj terjadi pada periode akhir kenabian di Mekah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Isra dan Mikraj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad saw dalam waktu satu malam saja.

Isra merupakan peristiwa "diberangkatkan” Nabi Muhammad oleh Allah swt dari Masjidil Haram, Mekah, ke Masjidil Aqsa Jarussalem di Palestina. Sementara Mikraj adalah peristiwa Rasulullah dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha dari Masjidil Aqsa. Dalam perjalanan tersebut, Nabi juga mendapatkan mandat dari Allah swt untuk menyampaikan kewajiban salat lima waktu kepada umat Islam.

Hijrah Nabi Muhammad menjadi titik tolak peristiwa Isra Mikraj. Hijrah berasal dari bahasa Arab yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah. Hal itu dilakukan dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah swt berupa akidah dan syariat Islam.

Perintah berhijrah tertulis dalam QS Al-Baqarah: 218 yakni, "Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Secara garis besar, hijrah dibedakan menjadi dua macam, yaitu hijrah makaniyah yang berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain, kemudian hijrah maknawiyah yakni mengubah diri, dari yang buruk menjadi lebih baik demi mengharap keridaan Allah swt.

Bahkan, hijrah maknawiyah dibedakan menjadi empat yaitu hijrah i'tiqadiyah (hijrah keyakinan). Kedua, hijrah fikriyah (hijrah pemikiran) yakni ketika seseorang memutuskan kembali mengkaji pemikiran Islam yang berdasar pada sabda Rasulullah dan firman Allah swt. Ketiga, hijrah syu'uriyyah adalah berubahnya seseorang yang dapat dilihat dari penampilannya. Terakhir, adalah hijrah sulukiyyah yang berarti hijrah tingkah laku atau kepribadian.

Artinya, berhijrah memang tidak selamanya bermakna berpindah dari satu tempat ke tempat yang baru. Hijrah harus memenuhi dua syarat yaitu ada sesuatu yang ditinggalkan dan ada sesuatu yang ditujunya (tujuan). Tetapi, pada prinsipnya, berhijrah harus diiringi tekad mengubah diri demi meraih rahmat dan keridaan Allah swt. Umat muslim harus berusaha mengubah hidupnya menjadi lebih baik. “Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’d [13]: 11).

Semoga hijrah nabi Muhammad dalam peristiwa Isra Mikraj yang menjadi cara Allah swt menghibur Rasulullah di tengah kesedihan semakin mempertebal keimanan kita sebagai umat muslim. Semoga kita bisa mendapatkan kesempurnaan iman dan Islam.

 

Vera Aglisa/Wartawan Lampung Post

Berita Terkait

Komentar