#dbd#tips

Wali Kota Metro: Hati-hati Berantas DBD, Fogging Itu Racun

( kata)
Wali Kota Metro: Hati-hati Berantas DBD, <i>Fogging</i> Itu Racun
Wali Kota Metro, Wahdi Sirajuddin saat ditemui di rumah dinas, Rabu, 12 Januari 2022. Lampost.co/Bambang Pamungkas


Metro (Lampost.co) -- Pemerintah Kota (Pemkot) Metro mengimbau warga untuk turut membantu dalam pemberantasan Demam Berdarah Dangue (DBD), terutama di musim pancaroba. Akan tetapi, upaya pemberantasan tersebut tidak disarankan dengan menggunakan fogging alias penyemprotan insektisida untuk membunuh nyamuk aedes aegypti.

Wali Kota Metro, Wahdi Sirajuddin mengatakan, tingkat penyebaran kasus DBD sangat tinggi seiring cuaca ekrem. Oleh karena itu, pihaknya meminta masyarakat untuk bersama-sama membantu menanggulangi dan memberantas sarang nyamuk. 

"Saya hanya menekankan kepada masyarakat, yang paling penting itu adalah sumber awalnya diberantas dengan cara 3M plus," kata dia, Rabu, 12 Januari 2022. 

Baca: Daftar Kabupaten/Kota Rawan DBD di Lampung

3M plus adalah menutup, menguras, dan mengubur tempat penampungan air. Ditambah penaburan bubuk abate di tempat penyimpanan air bersih. 

Wahdi menyebut, dengan kesadaran masyarakat seperti itu maka pemberantasan sarang nyamuk bisa lebih maksimal. 

"Saya lama sekali bertugas di puskesmas. Saya dulu hanya pakai abate saja, dan sudah diuji klinis bahwa abate aman untuk kesehatan, bahkan untuk diminum pun tidak apa-apa," ucapnya. 

Wali Kota tidak menyarankan pemberantasan sarang nyamuk itu keburu dilakukan dengan fogging. Pasalnya, kata dia, fogging itu sangat berbahaya. 

"Anda boleh baca, fogging itu sifatnya toxic loh, racun. Maka Dinas Kesehatan (Dinkes) tidak boleh menyemprotkan sembarangan," ujar dia. 

Hingga per Selasa, 11 Januari 2022, RSUD Ahmad Yani dilaporkan menangani 21 pasien DBD. Sebanyak 11 pasien di antaranya berasal dari Metro dan 10 pasien lainnya dari luar daerah. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar