#lampung#lamsel#panen

Hasil Panen Padi Petani Merosot 50% di Musim Kemarau

( kata)
Hasil Panen Padi Petani Merosot 50% di Musim Kemarau
Sejumlah buruh tani saat memanen padi milik petani yang merosot hingga 50 persen di Desa Pulaujaya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Minggu, 10 November 2019. Lampost.co/Armansyah


Kalianda (Lampost.co)-- Kekeringan panjang yang terjadi membuat hasil panen padi gabah di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, merosot hingga 50 persen dibandingkan biasanya. Merosotnya hasil panen ini disebabkan minimnya suplai air yang menyebabkan banyak sawah mengalami kekeringan.

Seperti diungkapkan, Iskandar, anggota Gapoktan Tani Maju Desa Pulaujaya, hasil panen pada musim gaduh tahun ini merosot. Rata-rata petani setempat hanya mampu memproduksi gabah kering panen 4 ton per hektare.

"Wah, musim gaduh tahun ini merosot hasil panen petani. Bisa mencapai 50 persen dibandingkan musim gaduh tahun sebelumnya. Ya, rata-rata paling empat ton dalam satu hektare. Tahun lalu rata-rata mencapai 7 ton per hektare," katanya, Minggu, 10 November 2019.

Dia mengaku merosotnya hasil padi gabah panen itu dikarenakan minimnya pasokan air untuk mengairi lahan persawahan selama musim kemarau. Hal itu menyebabkan pertumbuhan dan hasil panen tidak maksimal. Bahkan, ada petani yang gagal panen karena kekeringan.

"Mau bagaimana lagi, selama musim kemarau petani kesulitan mendapatkan air. Jelas hasil panen merosot dan ada pula yang gagal panen. Yang jelas, tahun ini panennya tidak maksimal," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Gapoktan Maju Makmur Desa Bumirestu, Keri. Dia mengaku kekeringan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mengakibatkan hasil panen yang tidak maksimal. Pada musim gaduh tahun ini petani rata-rata hanya menghasilkan gabah 4—5 ton.

"Kalau ketersediaan air yang banyak, produksi petani biasanya mencapai 8—9 ton per hektare. Dengan kondisi ini, petani hanya bisa pasrah," ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Palas Agus Santosa mengaku saat ini yang memasuki panen baru beberapa desa, seperti Desa Baliagung, Tanjungjaya, Kalirejo, Rejomulyo, Bumidaya, Pulaujaya, Sukaraja, Bumiasih, dan Bumiasri.

"Kalau rata-rata untuk Kecamatan Palas hasil panen merosot hingga 50 persen. Ini karena minimnya pasokan air. Tapi, kalau khusus Desa Baliagung bisa mencapai 10 ton per hektare karena petani menggunakan pompanisasi sumur bor dengan mesin sible," kata dia.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar