ingatpesanibumencucitanganmemakaimaskermenjagajarak

Haruskah Ibu

( kata)
Haruskah Ibu
Ilustrasi/Medcom.id


Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post 

RIANA Sari Arinal tidak mau ketinggalan dengan Padi Reborn, kelompok band papan atas anak muda Indonesia. Kalau Padi merilis lagu pendek berjudul Ingat Pesan Ibu. Kini istri Arinal Djunaidi, gubernur Lampung menciptakan lagu serupa juga. Judulnya, 3M Lampung Berjaya (isinya kampanye memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan).
 
Bait per bait, kata per kata yang dirangkai Riana penuh makna. Lagu ini langsung dipendengarkan di Sai Radio 100 FM ketika talk show di radio milik Lampung Post, Kamis sore, 22 Maret 2020. Lagunya memotivasi bagi rakyat Bumi Ruwa Jurai yang mudah dihapal juga kaya makna.

"Lagu ini saya ciptakan guna membantu pemerintah agar masyarakat baik anak-anak, dewasa maupun orang tua di kota hingga ke desa bergegas mau menerapkan 3M," kata Riana bersemangat sebelum acara talk show. Lirik lagu, kata dia, mudah diingat karena isinya mudah dipahami. 

Pesan Riana Arinal dalam 3M Lampung Berjaya menginspirasi Lampung, provinsi yang diimpit daerah zona merah terdepan dalam memutus rantai penyebaran Covid-19. Hari ini, Lampung jadi primadona wisatawan karena keindahan alam, kuliner, oleh-oleh, serta keramahan warganya. 

Untaian lagu ciptaan Riana;  “Warga Lampung berjaya, tabik pun semuanya. Ayo kita gerakkan budaya hidup sehat. Mari kita jalankan anjuran pemerintah. Lakukan 3M, protokol kesehatan. Ingat-ingat pesan ibu; pakai masker setiap saat. Jaga jarak tetap aman minimal satu meter. Ingat-ingat pesan ibu; cuci tangan dengan sabun. Gunakan air yang mengalir, jaga orang yang kita sayang. Maskermu, melindungiku. Maskerku, melindungimu. Bersama kita melawan virus Covid-19.  Hayo Pakai maskermu ...”

Lagu berdurasi dua menit empat detik, berulang kali diputar di radio anak muda–Sai Radio 100 FM. Makna yang tersirat memiliki mimpi, optimistis, bahwa dengan lagu tersebut, anak bangsa saling mengingatkan antara satu dan lain, baik anak, saudara, keluarga, maupun teman terus berkomitmen menerapkan protokol kesehatan. Penting untuk diri sendiri juga orang lain. 

Ibu gubernur adalah bagian kekuatan bangsa di Lampung agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Selain tembang Riana, juga ada lagi lagu milenial yang sering diputar di radio dan televisi milik Padi Reborn. Lagu berjudul Ingat Pesan Ibu –menekan virus corona baru merupakan hasil kerja sama antara Padi dengan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19. 

Padi Reborn bersepakat menggunakan kata ibu dalam lagu berdurasi 30 detik itu adalah sosok yang paling dihormati, dicintai, dan disayangi oleh setiap anak-anak bangsa. Pesan positif dari Padi yang disampaikan lewat lagunya agar bisa diterima dan terasa personal untuk pendengar.

Bait-bait lagu Padi mengedukasi masyarakat, mudah diterima, rakyat bisa mengubah perilaku menjaga kesehatan. Karakter ibu–yang dipakai dalam lagu adalah sosok yang benar-benar menginspirasi karena doanya mampu tembus hingga ke langit ketujuh. Semua kemuliaan itu ada di ibu. 

Sosok ibu menginginkan keluarganya selalu sehat. Doan ibu pasti terkabul. Sehingga masyarakat tergerak dan setia menerapkan protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) jika keluar rumah, ataupun berinteraksi dengan orang lain.

Maka itu peran ibu selama pandemi sangat penting dan strategis. Ungkapan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak, saat corona baru mewabah sangat membantu ikut mencerdaskan anak bangsa. Belajar di rumah bersama ibu menentukan sukses tidaknya proses pembelajaran jarak jauh selama pandemi. Apalagi dalam mengampanyekan protokol kesehatan. 

***

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2020, menyebutkan kaum ibu cenderung disiplin menjalankan protokol kesehatan ketimbang ayah. Pemakaian masker, contohnya, kaum perempuan tercatat 94,8%, sedangkan laki-laki  88,5%.  Padahal pemerintah dan media sangat getol mengingatkan masyarakat agar mematuhi 3M.

Saatnya masyarakatlah terdepan mematuhi protokol kesehatan. Mengapa? Karena dokter dan tenaga kesehatan sudah berguguran menghadang wabah Covid-19. Angkanya sangat fantastis. Data dari PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat dalam rentang Maret–Oktober terdapat 253 petugas medis dan kesehatan yang gugur karena terpapar virus corona baru. 

Mereka adalah 141 dokter, sembilan dokter gigi, dan 103 perawat. Dari dokter yang meninggal itu, terdiri 75 dokter umum di antaranya lima guru besar, 64 dokter spesialis (lima guru besar), serta dua residen IDI dari seluruh Indonesia. Ingat! Hilangnya dokter, pekerja medis, dan kesehatan tidak dapat tergantikan dalam waktu yang singkat. 

Dalam perjalanan wabah Covid-19 sejak Maret lalu menunjukan pandemi menempatkan tingkat stres psikologis yang sangat luar biasa bagi petugas kesehatan. Permintaan untuk menyembuhkan pasien sangat tinggi. Rumah sakit penuh sementara mereka terus diselimuti rasa takut. Hanya karena sumpah dan komitmen profesi–rasa itu hilang demi nyawa anak manusia.

Untuk membantu tenaga kesehatan agar tidak bertumbangan terus menerus, maka tidak ada cara lain–sembari menunggu vaksin, adalah menerapkan protokol kesehatan secara tegas dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, serta menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain.

Apalagi saat ini sebanyak 270 daerah kabupaten, kota, dan provinsi yang berpesta demokrasi. Pesan moral yang selalu diingatkan agar menjaga pilkada tidak menjadi klaster baru. Terkadang masih ada pasangan calon kepala daerah dan partai politik abai dengan protokol kesehatan. Tragis!

Indonesia tidak perlu mencontoh Amerika Serikat. Elite politik negara itu masih memperdebatkan perlu tidaknya memakai masker. Memakai masker dianggap sebagian rakyatnya membatasi kebebasan individu. Penduduk di daratan Amerika terbelah karena kepentingan politik. Partai Demokrat saja  lebih cenderung setuju penggunaan masker ketimbang kubu Republik. 

Hasil jajak pendapat Pew Research Center seperti dikutip The Guardian, belum lama ini, menyebutkan banyak gubernur Demokrat mewajibkan warganya mengenakan masker. Joe Biden, calon presiden dari Demokrat berharap jika terpilih akan mewajibkan orang mengenakan masker di ruang publik. Ini patut dicontoh karena untuk kesehatan dan nyawa rakyat. 

Berbeda dengan Partai Republik yang tidak mewajibkan memakai masker bagi rakyat. Donald Trump, presiden dari Partai Republik terang-terangan menolak masker. Dalam berbagai kesempatan, Trump selalu menyudutkan Biden, rival politiknya dalam perebutan kursi presiden. 

Belakangan Trump dan istri juga para pembantunya harus bertekuk lutut – dilarikan ke rumah sakit karena terpapar Covid-19. Masker tidak dipakai karena dilihat dari sisi kepentingan kampanye politik lawan, bukan untuk membentengi diri dari wabah corona. Kali ini, Trump tidak patut dicontoh!

Menumbuhkan kesadaran rakyat guna menerapkan protokol kesehatan adalah harga mati. Contohnya, Biden. Memakai masker–tidak harus ingat selalu pesan ibu—dipastikan bisa menghentikan wabah Covid-19. Dengan begitu, anak-anak bangsa dapat menjalani kehidupan normal lagi, penuh harapan serta kepastian hidup guna membangun masa depan. *** 
        

Abdul Gafur







Berita Terkait



Komentar