#Kesehhatan#KoronaVirus

Harunya Doa Ratusan Yatim untuk Berlalunya Korona

( kata)
<i>Harunya Doa Ratusan Yatim untuk Berlalunya Korona</i>
Ratusan anak yatim Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin di Kecamatan Tanjungkarang Timur, Kota Bandar Lampung berdoa menghalau wabah virus korona,Sabtu, 28 Maret 2020. (Efrran Kurniawan/Lampostt.co)

Bandar Lampung (Lampost.co) – Sabtu siang, 28 Maret 2020. Ratusan anak yatim Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin di Kecamatan Tanjungkarang Timur, Kota Bandar Lampung melaksanaan solat zuhur.

Usai menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim, para santri tetap berada dalam berisannya dan langsung berebut mengambil Alquran yang tersimpan dalam lemari musala.

Anak-anak itu melanjutkan kegiatannya dengan berdoa bersama untuk menghalau virus covid-19 (korona) yang terus menyebar. Dengan khusyuk dan haru, pondok pimpinan Ismail Zulkarnain membaca surat alfatihah dan mengkhatamkan alquran, serta memanjatkan doa. Dengan permohonan agar wabah tersebut bisa segera berakhir di Indonesia khususnya di Lampung.

Ketua Ponpes Riyadhus Sholohin, Ismail Zulkarnain menjelaskan anak asuhannya membaca alquran 30 juz sebagai rutinitas. Dengan permohonan agar Allah menjauhkan malapetaka dan wabah Corona di Lampung dan Indonesia secara umum.

"Untuk itu kami juga menyempatkan diri memotong satu ekor sapi dengan tujuan agar Allah menerima kurban ini dan menjauhkan bala kepada kita semua," kata Ismail yang juga Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Bandar Lampung, di pondoknya.

Selain itu, Ketua Ikatan Silaturahim Ponpes Provinsi Lampung itu juga berdoa agar pemimpin negeri ini diberi kekuatan dan sikap serta kemampuan yang tegas untuk mengatasi persoalan tersebut. Dia menilai upaya pemerintah dalam menangani covid-19 sudah cukup baik.

Namun, melihat perkembangan kondisi saat ini, dia berharap agar pemerintah dapat mengambil sikap tegas untuk melakukan kebijakan lockdown. Terutama di Lampung yang kini memiliki empat warganya positif terjangkit Corona.

"Kami berharap pemerintah khususnya di Lampung bisa mengambil sikap lockdown. Sebab, percuma saja kalau kita diminta di rumah saja. Tapi, akses masuk dari luar daerah yang banyak menjadi pusat terjangkitnya bisa tetap masuk," katanya.

 

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar