#sembako#kebutuhanpokok#nataru

Harga Sembako di Lampung Jelang Nataru mulai Dipantau

( kata)
Harga Sembako di Lampung Jelang Nataru mulai Dipantau
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung saat Bazar Rebo beberapa waktu lalu. Lampost.co/Triyadi Isworo


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Jelang Hari Raya Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) harga dan stok sembako perlu dikendalikan agar tidak melambung tinggi atau bahkan terjadi kelangkaan.

Rata-rata harga sembako di pasar tradisional di Kota Bandar Lampung periode 23 November 2021 masih terpantau stabil. Seperti bawang putih honan dibanderol Rp23.750, bawang merah Rp21.625, bawang putih kating Rp18.125, beras Raja Udang Rp10.250, beras SJ Rp12.862, dan beras asalan Rp8.250.

Kemudian cabai merah keriting Rp38.875, cabai merah biasa Rp38.000, cabai rawit jawa Rp31.250. Lalu daging tetelan Rp70.000, daging sapi termurah Rp100.625, daging ayam kampung/ekor Rp59.375, daging sapi termahal Rp125.000, daging ayam ras/kg Rp 34.188, gula aren Rp20.375, dan gula pasir curah (Rose Brand) Rp13.000.

Selanjutnya kacang tanah kupas Rp27.750, kacang hijau Rp25.875, kedelai Rp11.875, minyak goreng (Tawon 1 liter) Rp17.500, SKM Frisian Flag Kaleng 370 gr Rp10.562, telur ayam ras/Kg Rp22.500, telur ayam kampung/butir Rp3.088, tepung terigu Segitiga Biru Rp12.125, tepung terigu Cakra Kembar Rp7.438, dan tepung terigu Kunci Biru Rp9.312.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, M. Zimmi Skill mengatakan, pihaknya bersama stakeholder terkait terus memonitoring keadaan harga dan stok kebutuhan sembako yang ada di pasar jelang Nataru. 

"Selain Bazar Rebo, untuk pengendalian harga dan stok sembako yakni memfasilitasi Bapok yang memproduksi dan menggelar pasar lelang komoditas," katanya kepada Lampost.co, Selasa, 23 November 2021.

Baca: Ganjil Genap akan Diterapkan di Lampung selama Nataru

 

Ia mengaku masih menunggu kebijakan lebih lanjut dari pemerintah pusat mengenai tingginya harga minyak goreng di pasaran. Saat ini, kata dia, kenaikan harga minyak goreng lebih dikarenakan harga internasional yang terkerek cukup tajam.

Selain itu, dari dalam negeri, kenaikan harga minyak goreng turut dipicu turunnya panen sawit pada semester ke-2. Sehingga, suplai CPO menjadi terbatas dan menyebabkan gangguan pada rantai distribusi (supply chain) industri minyak goreng, serta adanya kenaikan permintaan CPO untuk pemenuhan industri biodiesel seiring dengan penerapan kebijakan B 30.

"Untuk minyak goreng masih menunggu arahan pusat karena kenaik minyak goreng di akibatkan oleh naiknya harga CPO dunia," kata Zimmi.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar