#sawit#perkebunan

Harga Sawit Tembus Rp3.500 per Kg, Tertinggi Sejak 1995

( kata)
Harga Sawit Tembus Rp3.500 per Kg, Tertinggi Sejak 1995
Ilustrasi. Dok. Lampost.co


Kalianda  (Lampost.co) -- Sejumlah petani sawit yang masih bertahan di Kabupaten Lampung Selatan mendapatkan kado terindah pada September 2021. Pasalnya, sepanjang sejarah harga tandan buah segar (TBS) sawit saat ini melambung tinggi mencapai Rp3.500 per kilogram.

Heri, salah satu petani sawit yang masih bertahan di Desa Gandri kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, mengatakan harga TBS saat ini merupakan harga tertinggi yang pernah ada sejak menggeluti sawit pada 1995 silam.

"Sejak tanam sawit dan baru tahun ini saya bisa menikmati manisnya harga TBS. Sebagai contoh harga TBS biasanya di bawah Rp1.000/kilogram, saat ini tembus Rp2.300/kilogram. Kalo di gudang bisa Rp2.500/kg," kata Heri, Kamis, 9 September 2021.

Menurutnya, di tengah pandemi sektor perkebunan tidak banyak terdampak terhadap lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Sawit, kata dia, menjadi sektor penyelamat di tengah kesulitan ekonomi ini dan harus terus dijaga agar harga terus stabil.

"Dulu luas lahan sawit di desa ini cukup luas. Namun banyak yg dirombak karena harga selalu jeblok. Enggak cukup untuk biaya operasional dan banyak juga yang tidak buah, maka dirombak jadi kebun jagung," ujar Heri kepada Lampost.co.

Petani sawit lainnya, Tukidi, di perkebunan sawit Desa Sumbersari Kecamatan Sragi menyebutkan, dengan harga saat ini dan stabil untuk selanjutnya, maka ekonomi petani diyakini akan membaik.

"Prospek sawit ke depannya sangat menjanjikan. Untuk itu kami harap perlu ada pembinaan dari dinas terkait terhadap petani kelapa sawit yang masih tersisa ini," ujarnya.

Menurutnya, selama ini para petani lesu, namun kini ia akan meningkatkan perawatan dan pemupukan kebun sawit miliknya seluas 5 hektare tersebut.  

“Saat ini saya akan meningkatkan perawatan, pembersihan, dan pemupukan kebun sawit supaya bisa menghasilkan 3-4 ton setiap panen dua pekan sekali. Selama ini saya kurang merawat kebun sawit karena harga TBS selalu rendah dan tidak cukup untuk biaya perawatan," pungkasnya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar