#sembako#pasar

Derita Pedagang Gorengan

( kata)
Derita Pedagang Gorengan
Pedagang Gorengan di Jalan ZA Pagar Alam Bandar Lampung sedang menyiapkan dagangannya. Lampost.co/Triyadi Isworo


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pedagang gorengan ikut merasakan dampak badai pandemi covid-19 dan melonjaknya harga minyak goreng yang tinggi. Selain itu, pedagang turut mengalami penurunan omset karena sepinya pembeli.

Pedagang Gorengan Aneka Rasa, Mujain menceritakan pandemi covid-19 sangat terasa dampaknya bagi usahanya. Ditambah lagi harga minyak goreng curah tinggi dikisaran Rp16.000/liter. Dalam sehari ia memakai minyak goreng sekitar 5 liter. Untuk ukuran gorengan tetap normal dan dijual Rp5.000 mendapat 4 gorengan.

"Usaha gorengan sepi, apalagi ada pandemi. Biasanya sebelum pandemi ramai pembeli dari mahasiswa. Sekarang daring semua jadi sepi yang beli," katanya di lokasi usahanya Jalan ZA Pagar Alam, Bandar Lampung, Rabu, 15 September 2021.

Baca juga: Pemprov Lampung Diminta Intervensi Harga Minyak Goreng

Ia menceritakan biasanya sebelum pandemi penghasilannya dalam sehari bisa mencapai Rp200 ribu sampai Rp500 ribu. Namun, ketika pandemi penghasilannya dalam sehari tidak sampai Rp100 ribu. "Penginnya ramai lagi, banyak yang beli, tapi mau gimana nyatanya sepi," ujarnya. 

Di tempat terpisah, pedagang gorengan di sekitaran Kantor Pemerintah Provinsi Lampung, Yulius, mengatakan dalam sehari bisa membeli satu kemasan minyak goreng. Ia mengatakan harga minyak goreng di pasaran sekitar Rp13.000/kemasan. Sementara untuk setiap gorengan dihargai Rp1.000.

"Saya belinya minyak goreng kemasan setiap hari, tidak memakai minyak curah karena sudah jarang yang jual. Yang penting, minyaknya ada. Jadi bisa jalanin usaha. Kalau penginnya mah ya harga turun," katanya. 

 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar