#beritalampung#beritalampura#perajintahutempe#umkm

Harga Kedelai Melejit, Perajin Tahu dan Tempe di Lampura Menjerit

( kata)
Harga Kedelai Melejit, Perajin Tahu dan Tempe di Lampura Menjerit
Perajin tahu dan tempe di Lampung Utara mengeluh kenaikan harga kacang kedelai. Lampost.co/Hari Supriyono


Kotabumi (Lampost.co): Pemilik usaha industri rumahan tahu dan tempe di Lampung Utara mengeluhkan kenaikan bahan baku kacang kedelai di wilayah setempat dampak adanya penyesuaian kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Para perajin tahu dan tempe menjerit, lantaran harga bahan baku terus merangkak naik.

Menurut Sukiman (60), salah satu pemilik usaha pembuatan tahu dan tempe di Kelurahan Sribasuki, Kotabumi, Lampung Utara, kenaikan bahan baku kacang kedelai saat ini dirasakan sangat memberatkan para perajin tahu dan tempe.

Pasalnya, kata dia, kenaikan bahan baku kacang kedelai membuat keuntungan para pengelola usaha tahu dan tempe yang ada di Lampung Utara hanya cukup untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selebihnya keuntungan yang didapatkan minim.

Baca juga:  Petani di Mesuji Bisa Beli BBM Pakai Jeriken  

"Kami hanya bisa bertahan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja," kata Sukiman, Selasa, 4 Oktober 2022.

Menurutnya kenaikan harga kacang kedelai sudah terjadi beberapa kali. Sebelum adanya kenaikan harga BBM juga sudah terjadi kenaikan.

"Harga kacang kedelai 1 kuintal sebelumnya Rp900 ribu. Sekarang BBM naik harganya mencapai Rp1,2 juta per kuintal," kata Sukiman, yang telah menjalankan usahanya selama puluhan tahun tersebut.

"Kami para perajin tahu dan tempe meminta pemerintah dapat memberikan bantuan subsidi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut," kata dia lagi.

Dengan kondisi saat ini, kata dia, para perajin hanya dapat menyiasati mengurangi ukuran tahu dan tempe agar usaha dapat tetap berjalan.

"Hanya mengurangi ukuran saja, tidak berani menaikan harga karena takut barang tidak laku terjual," kata dia.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar