#perkebunan#ekbis#hargagetahkaret#beritalampung

Harga Karet Tergantung Dinamika Ekonomi Dunia

( kata)
Harga Karet Tergantung Dinamika Ekonomi Dunia
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung Edi Yanto. Lampost.co/Triyadi Isworo

Bandar Lampung (Lampost.co): Harga karet di pasaran semakin terpuruk. Untuk mencapai titik impas, harga ideal seharusnya Rp12 ribu per kilo. Tetapi dalam dua tahun terakhir anjlok sampai Rp7.000 per kilo, bahkan sejak Februari lalu berada di level Rp4.000 per kilo. Anjloknya harga membuat petani frustrasi hingga menebangi tanaman karet dan beralih menanam komoditas lain, seperti palawija.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perkenunan Provinsi Lampung, Edi Yanto, mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa secara langsung melakukan intervensi mengenai harga karet. Ia mengatakan bahwa harga karet sangat bergantung dengan dinamika ekonomi perdagangan dunia.

"Secara langsung kita tidak bisa intervensi. Sama seperti komuditas kopi dan sawit, itukan tidak hanya diperdagankan di pasar lokal tapi diperdagangkan juga di pasar perdagangan internasional. Maka sangat tergantung dengan dinamika ekonomi perdagangan dunia," katanya di Kantor Gubernur Lampung, Kamis 2 Juli 2020.

DIa mengatakan untuk karet terkadang terdapat kelebihan suplai. Bahkan di berbagai negara menggunakan karet sintetis, jadi tidak menggunakan karet yang bersumber dari alam lagi. Hal tersebut yang menyebabkan harga karet turun.

"Kalau ditnya bagaimana caranya. Maka kita harus membuat kualitasnya yang terbaik. Karena bagaimanapun pasti ada perbedaan harga di grate grate tertentu," katanya.

Sebelumnya sesuai data BPS Provinsi Lampung terkait perkembangan ekspor dan impor Provinsi Lampung pada April 2020 terekap bahwa nilai ekspor Provinsi Lampung April 2020 mencapai 246,78 juta dolar AS, mengalami peningkatan sebesar 23,93 juta dolar AS atau naik 10,74 persen dibanding ekspor Maret 2020 yang tercatat 222,85 juta dolar AS. Nilai ekspor April 2020 ini jika dibandingkan dengan April 2019 yang tercatat 195,81 juta dolar AS mengalami peningkatan sebesar 50,97 juta dolar AS atau naik 26,03 persen.

Sepuluh golongan barang utama ekspor Provinsi Lampung pada April 2020 adalah lemak dan minyak hewan/nabati; batu bara; kopi, teh, rempah-rempah; ampas/sisa industri makanan; olahan dari buah-buahan/sayuran; bubur kayu/pulp; ikan dan udang; karet dan barang dari karet; daging dan ikanolahan; dan kayu, barang dari kayu.

Berdasarkan informasi luas area, produksi, perkebunan rakyat yang dihimpun di Dinas Perkebunan Provinsi Lampung untuk komoditi karet di  2018 ada 199.626 ha, ada 164.904 jumlah kepala keluarga (KK), untuk tanaman belum menghasilkan ada 56.043 ha, tanaman menghasilkan ada 137.744 ha, tanaman rusak 5.839 ha, untuk produksinya mencapai 156.120 ton dan produktivitasnya 1.133 kg/ha.

Kemudian di 2019 mengalami pengurangan lokasi lahan. Di  2020 total luas ada 197.137 ha dan 166.038 KK. Untuk tanaman belum menghasilkan ada 50.290 ha, tanaman menghasilkan ada 138.868 ha, tanaman rusak 7.979 ha. Sementara produksinya mencapai 191.122 ton dan produktivitasnya 1.376 kg/ha.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar