#Jahe#lampungutara

Harga Jahe di Lampura Melambung Tinggi

( kata)
Harga Jahe di Lampura Melambung Tinggi
Pedagang empon-empon Pasar Sentral Kotabumi sedang melayani pelanggannya, Senin (21-12-2020)/Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co) -- Harga jahe di Pasar Sentral Kotabumi Kabupaten Lampung Utara (Lampura) bergerak naik. Tingginya harga empon-emponan itu, karena jahe dipercaya sebagai bahan untuk minuman herbal guna meningkatkan imun tubuh di masa pandemi Covid-19. 

"Harga jahe emprit sebelum Covid-19 dijual dengan harga di kisaran 35 sampai 40 ribu rupiah per kilogram. Setelah terjadi pandemi, sekitar Maret 2020 naik menjadi 50 ribu rupiah per kilo gram. Dan pada awal November 2020 harga kembali mengalami kenaikan sampai 60 ribu rupiah per kilogram," ujar Sugi, seorang pedagang empon-empon di Pasar Sentral Kotabumi, Senin, 21 Desember 2020. 

Selain jahe emprit, harga jahe merah juga mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp60 ribu per kilogram naik menjadi Rp65 ribu per kilogram. Hanya saja untuk jahe merah tidak setiap saat tersedia di pasar. 

"Sebelum Covid-19, permintaan jahe sehari rata-rata tujuh sampai 10 kilogram. Setelah Covid-19, jahe di beli pelanggan sehari 15 sampai 20 kilogram dan pelanggannya selain pedagang jamu juga dari kalangan ibu rumah tangga yang peduli akan kesehatan keluarga," tuturnya. 

Untuk harga empon-emponan yang lain, masih stabil. Misalnya, harga kencur masih di kisaran Rp50 ribu/kilogram, temulawak Rp20 ribu/kilogram, kunyit di kisaran Rp10 ribu/kilogram, laos Rp8 ribu/kilogram dan sereh masih Rp2 ribu/ikat isi tujuh sampai delapan tunas.

"Naik dan turunnya harga tergantung pasokan barang dari petani. Kalau pasokan barang kurang harga akan mengalami kenaikan tapi, kalau pasokan melimpah, harga akan turun," kata Sugi. 

Seorang pembeli, Lastri, warga Kelurahan Cempedak Kecamatan Kotabumi mengaku, walau sedikit setiap belanja dia pasti membeli jahe sebagai salah satu bahan membuat minuman herbal guna meningkatkan imunitas.

"Kalau harga jahe naik, secara pribadi saya mengeluh. Tapi, saya tetap membelinya sebab sejak terjadi Covid-19, setiap hari keluarga kami mesti minum jamu guna menjaga kesehatan tubuh" kata dia. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar