#Nataru#Lampung

Harga Cabai Meroket

( kata)
Harga Cabai Meroket
Harga cabai melambung di pasar tradisional Kabupaten Lampung Selatan, Rabu, 16 Desember 2020/Lampost.co/ Aan Kridolaksono


Kalianda (Lampost.co) -- Sejumlah harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) mengalami kenaikan menjelang libur Natal 2020 dan tahun baru 2021 (Nataru). Kenaikan paling tampak pada harga cabai.

Harga cabai merah besar yang semula hanya Rp32 ribu kini melambung menjadi Rp60 ribu per kilogram.  Bahkan, harga cabai rawit yang semula hanya Rp25 ribu sekarang menjadi Rp60 ribu per kilogram. 

Hal ini membuat sejumlah pembeli atau pedagang mengeluh. Kenaikan harga ini terasa sangat membebani karena berbarengan dengan kondisi ekonomi masyarakat yang sedang lesu akibat pandemi Covid-19.

Seorang pedagang di pasar tradisonal desa Pematang Pasir Kecamatan Ketapang, Sri (47) mengatakan kenaikan harga cabai merah sudah terjadi sejak sepekan lalu. 

"Harga cabai yang naiknya langsung 100 persen membuat pedagang maupun pembeli kaget," ujar Sri kepada Lampost.co, Rabu 16 Desember 2020. 

Menurutnya, kenaikan harga komoditi cabai disebabkan pasokan dari beberapa daerah seperti dari Sumatra Selatan, Metro, dan Jawa berkurang. Belum lagi, saat ini musim hujan. 

"Harga cabai ini bisa jadi terus naik hingga pergantian tahun," ungkapnya. 

Hal senada diungkapkan Asih, pedagang bumbu dapur di pasar tradisional Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan.  Menurutnya, kenaikan harga selalu terjadi menjelang Nataru. Selain itu, kenaikan juga terjadi karena pasokan dari petani yang kurang seiring tingginya intensitas hujan.

 "Harga belum stabil, tapi harga bisa naik lagi padahal sekarang harganya mahal. Biasanya setelah tahun baru baru turun harganya," ujar dia.

Ia mengaku mensiasati kenaikan harga tersebut dengan mengurangi jumlah stok yang dijual. Dari biasanya stok yang dijual bisa mencapai 10 kilogram per hari untuk tiap jenis cabai.

"Kulakan untuk dijual tidak banyak karena lagi mahal. Risikonya barang bisa busuk karena tidak laku akibatnya rugi," tutupnya. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar