#tajuklampungpost#lakalantas#tol-sumatera

Gerbang Maut di Ujung Sumatera

( kata)
Gerbang Maut di Ujung Sumatera
foto dok Lampost.co

SAAT ini, dunia sedang geger atas merebaknya virus corona yang telah masuk ke hampir semua negara. Banyak orang dilanda kekhawatiran bahkan ketakutan akan tertular virus mematikan tersebut.

Namun, kekhawatiran akan ancaman penyakit berbahaya lain sering mengaburkan fakta lain yang lebih mematikan. Kecelakaan lalu lintas, misalnya. Dalam catatan kepolisian, selama 2019 terjadi 107.500 kasus kecelakaan atau meningkat dari 103.672 pada 2018. Sedangkan, jumlah korban meninggal dunia pada 2019 berjumlah 23.530 orang, turun dari 27.910 orang dibanding 2018. Ada sekitar 100 ribu kecelakaan setiap tahun dan ada 20-an ribu korban jiwa melayang. Khusus untuk Lampung selama 2019, ada 600-an korban jiwa melayang dari sekitar 3.000-an kasus kecelakaan.

Di Lampung, terdapat dua lokasi yang dikenal sebagai jalur maut. Disebut jalur maut karena di tempat tersebut sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa. Pertama, jalur tanjakan Tarahan di Lampung Selatan. Kedua, jalur masuk menuju gerbang Pelabuhan Bakauheni.

Jalur di gerbang Pelabuhan Bakauheni memang sering merenggut korban jiwa. Terakhir, truk tronton pengangkut gula menabrak 11 sepeda motor di parkiran sebelah Seaport Interdiction. Insiden tersebut menewaskan tiga orang, yakni sopir truk, pedagang asongan, dan seorang pejalan kaki.

Pada Desember 2019 lalu, sebuah truk tronton menabrak bagian belakang bus. Tidak ada korban dalam peristiwa itu. Sebelumnya, pada April 2019 lalu, truk pengangkut gula pasir menabrak truk lain, juga di gerbang Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni. Kuatnya tabrakan mengakibatkan kedua truk tersebut meledak dan terbakar.

Sementara pada Mei 2018, terjadi tabrakan beruntun yang melibatkan dua truk, 1 truk molen, dan 1 mobil boks. Dalam insiden tersebut sopir truk meninggal dunia. Jauh sebelumnya, pada September 2017 sebuah truk menabrak dinding tol yang menewaskan sopir sementara kernet mengalami luka berat.

Pintu Pelabuhan Bakauheni terletak di dataran rendah dan melayani kendaraan dari tiga jalur utama di dataran yang lebih tinggi, yakni Jalan Tol Trans-Sumatera, Jalan Lintas Sumatera, dan Jalan Lintas Pantai Timur. Sebagian besar kecelakaan terjadi karena kendaraan mengalami rem blong.

Sebenarnya, instansi terkait sudah memasang beberapa rambu lalu lintas khusus di lokasi tersebut. Tetapi kecelakaan masih saja terjadi. Karena itu, pemerintah perlu mengevaluasi kembali efektivitas pemasangan rambu lalu lintas dan lampu penerangan khusus yang sudah terpasang. Jika fasilitas pengaman yang sudah tersedia tidak berfungsi efektif menekan kecelakaan, perlu dilakukan dengan pemasangan rambu-rambu lain.

Solusi terakhir adalah dengan memangkas ketinggian badan jalan pada tiga jalur utama masuk pelabuhan. Memang, cara terakhir ini memerlukan biaya tinggi dan waktu lama dalam pengerjaan. Tetapi semua cara tetap harus dilakukan agar Pelabuhan Bakauheni menjadi pintu gerbang Sumatera yang aman.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar