#refleksi#Covid-19Lampung

Gelombang Virus

( kata)
Gelombang Virus
Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post. (DOK)


MASIH rendahnya masyarakat divaksin di negeri ini sangat berpotensi memunculkan gelombang ketiga virus corona. Apalagi semua aktivitas di ruang publik dilonggarkan. Mulai dari kegiatan tatap muka di sekolah/kampus, tempat hiburan, pasar modern, hingga tempat wisata. Hingga kini cakupan vaksinasi masih berkisar 24% dari target 70%.

Jadi sangat wajar apabila wabah–gelombang ketiga Covid-19 akan terjadi lagi. Ingat! Periode Desember 2021—Februari 2022 merupakan fase rawan lonjakan kasus virus corona terjadi. Pada tutup tahun, ada liburan akhir tahun, ada juga hari raya keagamaan, yakni Natal dan Tahun Baru.

Negeri ini tidak mau masuk ke lubang yang sama. Selalu waspada. Tetapi wabah tak terelakkan. Pascalibur Idulfitri 2020 saja, terjadi kenaikan kasus Covid-19 hingga 383%. Kenaikan kasus kedua juga terjadi setelah Idulfitri 2021 yang meroket hingga 880%, atau delapan kali lipatnya. Ini bertahan selama delapan pekan. Lelah sekali menghadapi wabah ini.

Semua berdampak. Juru bicara Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengingatkan, “Pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat tidak bisa terus-menerus dilakukan. Yang bisa kita lakukan ialah disiplin protokol kesehatan. Ini yang paling mudah dan murah yang bisa kita lakukan.”

Banyak pengamat dan pegiat kesehatan masyarakat mengibarkan bendera waspada. Seorang guru besar dari Universitas Udayana, Bali, Prof  I Gusti Ngurah Kade Mahardika membenarkan gelombang ketiga Covid-19 terjadi secara alami. Pada akhirnya manusia akan hidup berdampingan dengan corona seperti influenza atau penyakit virus lainnya.

Pendapat Gusti Ngurah itu tidak seekstrem Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ahli epidemiologi. Kalau WHO merilis corona bermutasi baru dengan keganasan lebih dari varian delta. Makanya lebih awal badan dunia itu mengingatkan penduduk harus lebih waspada.

Pandangan lain terhadap dampak dari pandemi Covid-19 ini disampaikan ahli epidemiologi Dicky Budiman. Menurut dia, penyakit Covid selama dan setelah infeksi menunjukkan penyakit virus corona tidak sama dengan flu. Penyakit flu tidak menyebabkan kerusakan organ juga tidak memiliki dampak jangka panjang. Ini bedanya dengan Covid-19.

Harus disadari. Saatnya mengampanyekan vaksinasi secara massal. Ini adalah bentuk kepedulian agar virus tidak menyebar, berevolusi, beranak pinak sehingga gelombang ketiga yang ditakutkan tidak akan terjadi. Tidak menakutkan lagi. Bahkan, Covid-19 melemah karena manusia sudah kuat.

Peningkatan berkecamuknya Covid-19 selama ini terjadi pada awal dan akhir tahun serta pertengahan tahun. Pola penularannya gara-gara tidak mengindahkan protokol kesehatan. Indonesia, juga di Lampung ini, harus mewaspadai agar gelombang ketiga nanti tidak seburuk gelombang kedua. Semua harus dikendalikan termasuk tingkat kesembuhan pasien.

Memang penyebaran kasus Covid-19 sulit dihindari, apalagi ada kelompok masyarakat hingga kini tidak menerapkan protokol kesehatan. Sangat sulit menyadarkan. Tapi vaksinasi terus digencarkan hingga mencapai 70% atau lebih, sehingga gelombang ketiga yang menakutkan tidak menelan korban.

Indonesia mempunyai modal dalam pengendalian Covid-19. Ketika hampir semua daerah di negeri ini berada di level 4, warga bahu-membahu agar wabah bisa ditekan dengan cara pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) serta mengawal vaksinasi hingga ke pelosok Tanah Air. Dua program spektakuler itu secara perlahan membuahkan hasil!

***

Banyak hikmah di balik wabah virus global ini. Para ahli berlomba-lomba mengembangkan vaksin, juga membuat strategi untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Indonesia menciptakan vaksin Merah Putih, virus Nusantara. Vaksin juga ditemukan dengan berbagai metode. Tujuannya adalah membentuk kekebalan tubuh dari serangan virus.

Siang malam riset dilakukan di beberapa negara. Dana pun dikucurkan agar vaksin segera ditemukan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Akhirnya, vaksin bermunculan dengan berbagai merek seperti Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, Moderna, Pfizer, juga Johnson-Johnson.

Vaksin sebuah ikhtiar! Secara teoretis, jika 80% populasi di sebuah negara atau wilayah sudah mendapat vaksinasi dosis lengkap, terbentuklah kekebalan kelompok. Sehingga penduduk relatif lebih aman dari keganasan serangan Covid-19 dengan berbagai varian barunya.

Pelajaran yang berharga harus dipetik dari pandemi yang mengerikan ini, adalah tidak patuhnya dengan protokol kesehatan serta vaksinasi. Virus dengan berbagai varian baru bisa dikendalikan dengan cara membentuk kekebalan tubuh dan kekebalan kelompok melalui vaksinasi.

Harus juga dicermati, corona dengan berbagai varian baru itu seperti perang berkelanjutan di muka bumi ini. Mengapa corona hanya hinggap di tubuh manusia! Mengapa corona tidak bersemayam di hewan atau tumbuh-tumbuhan? Siapa yang bisa menguasai virus–dengan temuan berbagai vaksin, maka dialah pemenang dari perang pandemi di dunia ini!

Suka tidak suka, mau tidak mau bahwa pandemi Covid-19 menyisakan persoalan di masyarakat. Dari hasil survei Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada Mei 2020, menunjukkan, 69% responden mengalami masalah psikologis selama wabah corona.

Masalah psikologis yang paling banyak dialami adalah 67% mengalami depresi, 68% mengalami kecemasan, dan 77% mengalami stres pascatrauma. Di sisi lain, riset POPULIX mengenai Economy Bounce Back After 2nd Curve mengungkapkan sebanyak 60% responden ingin kembali beraktivitas semula sebagai upaya menghilangkan kejenuhan di rumah.

Dua riset ini sebagai pijakan mengapa aktivitas warga perlu dilonggarkan, asal sudah divaksin dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Riset itu juga mengungkapkan 70% responden percaya vaksinasi dapat mencegah penularan virus, serta dukungan prasyarat vaksinasi untuk bepergian.

Patut juga diingatkan anak bangsa bahwa peningkatan mobilitas dengan dilonggarkannya kegiatan di ruang publik harus dijawab dengan ketaatan. Paling penting mengedepankan keamanan dan keselamatan warga dalam setiap kegiatan. Masih ingat pesawat Citilink yang melakukan pendaratan darurat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, akhir September lalu.

Hanya gara-gara anak kecil melepas penutup pelindung tuas pada pintu darurat dalam pesawat, sehingga pilot mengalihkan penerbangan ke bandara terdekat. Di saat angka kasus Covid-19 lagi tinggi-tingginya, semua harus tunduk pada peraturan keamanan dalam perjalanan.

Pertanyaannya, apakah anak kecil tadi sudah mengantongi surat izin dan rekomendasi Satgas Covid-19 untuk terbang? Anak itu jelas-jelas belum divaksin. Dan yang bisa melakukan perjalanan menggunakan pesawat sudah mengantongi sertifikat vaksinasi. Kejadian di maskapai itu fatal. Kesehatan, keamanan, dan keselamatan terabaikan hanya mengejar duit! ***

Winarko







Berita Terkait



Komentar