diskusiterorunila

Gelar Diskusi, Mahasiswa Unila Mendapat Teror

( kata)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Dua mahasiswa Unila yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teknokra mengalami kejadian yang aneh sejak Rabu malam, 10 Juni 2020. Kejadian mulai dari adanya peretasan akun Gojek hingga adanya dugaan intimidasi dari orang tak dikenal.

Keduanya diduga mendapat perlakuan tersebut karena sebagai penyelenggara diskusi daring dengan tema Diskriminasi rasial terhadap Papua #PapuanLiveMatter.

Pemred Teknokra Mitha Setianu Asih mendapatkan pesan kode OTP akun Gojek miliknya, pada Rabu malam, 10 Juni 2020. Dia tidak terpikir akan mengalami peretasan namun tiba-tiba pesan WhatsApp masuk dari driver Gojek "P".

Awalnya Mitha tidak menduga pesan itu dari ojek online, Gojek dan mengira hanya nomor orang yang iseng. Namun, telepon Mitha terus berdering dari driver Gojek.

Sejak itu ia menyadari akun di aplikasi Gojek-nya diretas. Saat membuka aplikasi Gojek miliknya, puluhan pesanan gojek sudah muncul di fitur pesanan, bahkan pesanan tersebut tidak bisa dibatalkan.

Chat pesanan seolah-olah Mitha benar-benar memesan dengan kalimat "sesuai aplikasi ya bang", bahkan chat-nya pun menyarankan untuk menghubungi akun WhatsApp Mitha.

"Sampai sekitar pukul 21.47 WIB, akun Gojek saya memesan makanan dengan titik yang disebar di mana-mana. Sampai akhirnya, saya bisa menghubungi call center Gojek untuk menutup akun Gojeknya," ujarnya di Mapolda Lampung, Rabu, 11 Juni 2020.

Tak hanya akun Gojek, Akun Facebook dan Instagram miliknya juga diretas.

Selain Mitha, Pemimpin Umum Teknokra Chairul Rahman Arif juga mendapatkan upaya intimidasi. Awalnya, ia mendapat telepon dari orang tidak dikenal, pukul 20.28 WIB.

Chairul mendapat pesan teror melalui WhatsApp dengan screen capture data identitas pribadinya, disertai dengan kalimat bernada ancaman untuk tidak menyelenggarakan diskusi. Selanjutnya pukul 20.59 WIB, Chairul kembali mendapat pesan bernada ancaman untuk tidak melaksanakan diskusi yang dianggap memprovokasi masyarakat, bahkan orang tersebut menyebutkan data pribadi Chairul sudah dipegang dan mereka mengancam keselamatan orang tua Chairul. Pesan itu disertai dengan foto KTP Chairul.

Koalisi Pembela Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi Lampung, yang terdiri dari LBH Bandar Lampung, AJI Bandar Lampung, Teknokra Unila, Aliansi Pers Mahasiswa Lampung, dan LBH Pers Lampung, menyatakan sikap atas kejadian tersebut,

1. Mengutuk teror terhadap jurnalis mahasiswa Teknokra Unila. Diskusi yang akan digelar Teknokra merupakan bentuk kebebasan berpendapat yang seyogianya mendapat perlindungan.

2. Mengecam keras aksi peretasan akun media sosial milik Pemred Teknokra, serta aksi teror terhadap Pemum Teknokra. Teror dan peretasan itu tindakan tak beradab yang mencederai demokrasi dan kehidupan bermasyarakat.

3. Mendesak kepolisian mengusut tuntas aksi teror dan peretasan terhadap jurnalis Teknokra.

4. Meminta negara untuk menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi warga negara.

5. Meminta semua pihak untuk menghormati kebebasan berpendapat dan berekspresi setiap orang, serta tidak melakukan aksi teror, ancaman, dan peretasan.

"Kami mengutuk upaya-upaya intimidatif tersebut," ujar Kadiv Advokasi LBH Bandar Lampung Kodri Ubaidilah.

Koalisi Pembela Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi Lampung melaporkan peretasan dan dugaan intimidasi tersebut ke Polda Lampung, pada Kamis malam, 11 Juni 2020.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra mengatakan terkait pengaduan tersebut tentunya akan diterima terlebih dahulu. "Akan dilakukan penyelidikan serta pembuktian masuk dalam unsur pidana atau tidak," katanya.

Winarko



Berita Terkait



Komentar