#penggelapan

Gelapkan Uang Perusahan, Salesman Divonis 18 Bulan Penjara

( kata)
Gelapkan Uang Perusahan, <i>Salesman</i> Divonis 18 Bulan Penjara
Sidang telekonference kasus penggelapan dengan terdakwa Agus Hidayat di PN Tanjungkarang, Selasa, 5 Mei 2020. Lampost.co/Febi Herumanika

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Agus Hidayat (35), warga Kelurahan Surabaya Kedaton, Bandar Lampung, divonis satu tahun enam bulan penjara lantaran melakukan penggelapan dengan membuat nota fiktif pembayaran milik perusahaan tempatnya bekerja. Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 374 KUHP.

"Mengadili menyatakan terdakwa Agus Hidayat terbukti melakukan tindak pindana penggelapan dalam jabatan, menjatuhkan pidana oleh karena itu dengan pidana penjara satu tahun enam bulan," kata Hakim Efiyanto dalam persidangan teleconference di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa, 5 Mei 2020.

Putusan tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Puji Rahayu dengan pidana penjara dua tahun. Dalam dakwaan jaksa, perbuatan terdakwa bermula saat menjabat sebagai sales spreading.

Terdakwa bertugas menawarkan dan menjual produk air minum dalam kemasan gelas 240 ml, botol 600 ml, 1.500 ml, dan galon ke toko-toko di daerah Metro, Tegineneng, Trimurjo, dan Jatiagung, Lampung Selatan.

"Terdakwa juga bertanggung jawab menagih uang hasil penjualan untuk disetorkan ke kasir perusahaan," katanya.

Satu waktu terdakwa memuat barang-barang ke truk dan membawa nota rangkap empat yang berwarna putih, biru, merah, dan kuning. Selanjutnya, terdakwa bersama sopir truk membawa barang-barang ke konsumen atau toko-toko langganan terdakwa dan mengirim sesuai permintaan dan menyerahkan barang kepada toko.

Sebagian toko melakukan pembayaran secara kas dan ada juga tempo. Apabila toko membayar kas, terdakwa seharusnya memberikan nota yang berwarna putih dan jika toko membayar secara tempo, terdakwa menyerahkan nota berwarna biru.

"Terdakwa tidak menyerahkan nota warna putih kepada toko yang melakukan pembayaran secara kas dengan alasan terdakwa tidak membawa nota," kata Jaksa.

Lalu terdakwa kembali ke perusahaan dengan membuat nota fiktif serta memalsukan tanda tangan pemilik toko seolah-olah toko yang melakukan pembayaran secara tempo, padahal membayar kas.

"Uang hasil penjualan yang dibayar kas tidak disetorkan terdakwa ke kasir melainkan digunakan untuk keperluan sehari-hari," ujarnya.

Perusahaan kemudian melakukan audit dan pengecekan ke toko-toko sesuai dengan nota yang dibuat terdakwa dengan jumlah dua puluh empat lembar nota.

"Toko-toko tersebut sudah melakukan pembayaran kas kepada terdakwa, akibat perbuatan terdakwa perusahaan mengalami kerugian kurang lebih Rp12.952.500," ujar.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar