#Damkar#LampungSelatan#Kalianda#Kebakaran

Gegasnya Pasukan Penjinak Kobaran Api

( kata)
Gegasnya Pasukan Penjinak Kobaran Api
Petugas Damkar saat padamkan api kebakaran bus di jalan lintas Sumatera. (Lampost/dok Damkar Lamsel)

KALIANDA (Lampost.co) -- Sirine meraung-raung sepanjang perjalanan. Hal itu mengisyaratkan bagi setiap pengguna jalan lain untuk menepi. Dengan begitu kendaraan pemadam kebakaran cepat sampai tujuan.

Iringan kendaraan pemadam kebakaran (damkar) selalu diburu dengan waktu agar musibah yang dialami si korban bisa dihindari dan bencana kebakaran yang terjadi tidak meluas dampaknya. Mereka selalu bergerak cepat.

Suasana seperti itu, selalu terjadi pada saat markas pemadam kebakaran yang berada di komplek Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan mendapat laporan ada kejadian kebakaran di wilayah mereka.

Setibanya di lokasi, para petugas Damkar tanpa harus dikomandoi langsung menarik selang ke lokasi titik api. Air langsung deras memadamkan kebakaran. Mereka pun langsung berhadapan dengan si jago merah yang berkobar kobar.

Damkar Lampung Selatan sudah dikenal banyak masyarakat setempat. Mereka pun kerap aktif dalam kegiatan sosial dari membersihkan saluran air, evakuasi korban tsunami, dan penyuluhan tentang bahaya kebakaran.

Menjadi petugas Damkar dalam Satuan Satpol PP dan Damkar Pemkab Lampung Selatan, harus selalu siaga dalam waktu 1X24 jam. Hal itu sudah menjadi etos kerja dari pasukan penjinak kobaran api tersebut.

"Kami tidak kenal waktu, harus tetap siaga, meskipun tidak sedang piket, karena kebaran tidak mengenal waktu," kata Kepala Bidang Damkar, Pemkab Lampung Selatan, Ruli Fikriansyah, Kamis, 29 Agustus 2019.

Dalam sehari sebanyak 6 anggota yang piket atau berjaga, sedangkan anggota yang lain harus tetap siaga, karena sewaktu-waktu terjadi kebakaran. "Piket setiap hari enam orang ditambah satu koordinator," ujarnya.

Pria kelahiran Desa Merakbelantung, 38 tahun yang lalu menjelaskan banyak suka duka menjadi petugas pemadam kebakaran. Terutama saat bertugas di lapangan untuk menyelamatkan harta dan jiwa masyarakat.

"Kejadian kebakaran tidak bisa di perkirakan, kadang kami lupa bawa bekal dan minum, jadi terpaksa menahan lapar. Tapi ada juga yang berbelas kasih dengan kami," ujarnya.

Selain itu, selama bertugas memadamkan api petugas berjibaku dengan bahaya api yang bisa mengancam keselamatan mereka sendiri.

"Setiap bertugas pastinya resiko yang tinggi, maka harus sesuai dengan Standar Operasional Prosedur," kata pria yang sudah memiliki empat orang anak itu.

Selama bertugas, paling kesulitan memadamkan api pada waktu kejadian kebakaran Pasar Natar, sebanyak 21 unit mobil Damkar diturunkan, karena lokasi sangat sulit, membuat kami kewalahan.

"Pada waktu yang itu kami di bantu Damkar Pemkot dan Pemprov," ujarnya.

Sedangkan pemadam api sangat beresiko, pada saat Mapolres Lampung Selatan, terbakar. Pada waktu itu, gudang senjata api dan peluru ikut terbakar. "Suara desingin peluru tidak berhenti terdengar saling bersahutan," ujarnya.

Untuk menekan angka kebakaran, semua hal sudah dilakukannya, dimulai dari memberikan penyuluhan ke masyarakat umum sampai instansi pemerintah.

"Semua tugas pokok dan fungsi semua sudah kami jalankan sesuai dengan amanat plt Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto," kata dia.

Perdhana Wibysono

Berita Terkait

Komentar