#BERITABANDARLAMPUNG,#EKONOMIBISNIS

Gaspool Nilai Penetapan Tarif Zonasi Tidak Berkeadilan untuk Ojol

( kata)
Gaspool Nilai Penetapan Tarif Zonasi Tidak Berkeadilan untuk Ojol
Ketua Gaspool Miftahul Huda. Lampost.co/Deta Citrawan


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Gabungan Admin Shelter Pengemudi Ojek Online Lampung (Gaspool) menilai penetapan tarif angkutan transportasi online berdasarkan zonasi tidak berkeadilan bagi para pengendara ojek online (ojol).

Ketua Gaspool Miftahul Huda mengatakan, dalam aksi beberapa hari lalu, selain menolak penolakan kenaikan harga BBM ojol juga menuntut agar kewenangan penetapan tarif diberikan kepada Pemerintah Daerah.

"Kami dari Gaspool Lampung mengharapkan Kementerian Perhubungan terkait penetapan tarif dikembalikan ke daerah, buat saja edaran dengan melibatkan stake holder terkait," ujarnya, Minggu, 11 September 2022.

Sebagai dasar penentuan tarif  bisa menggunakan Permenhub Nomor 12 Tahun 2019 dan mengenai penghitungan Dishub seluruh Indonesia paham akan hal ini berdasarkan parameter yang ada.

Jika hal itu tetap diberlakukan, bukan tidak mungkin nantinya turut berdampak pada kebutuhan konsumen akan berkurang, sehingga pengendara ojol akan sepi orderan.

"Sistem zonasi sangat tidak berkeadilan, bagaimana kota besar disamakan tarifnya dengan kota kecil, yang mana kebutuhan transportasi online tidak setinggi di kota besar. Pada saat kenaikan tarif terlalu tinggi bisa jadi konsumen akan berpindah, yang dikhawatirkan cuma satu, naik tarif bukan menambah kesejahteraan tapi orderan malah hilang," kata dia.

Dia menyarankan agar sesegera mungkin Peraturan Daerah tersebut dapat terealisasi. Menurutnya  hal itu juga akan berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). "Dari pada menjadi polemik lebih baik Pemerintah Provinsi segera mengambil peran untuk menyusun sebuah peraturan daerah tentang transportasi online. Sehingga yang akan mendapatkan manfaat dari bisnis transportasi online itu bukan hanya perusahaan aplikasi, tapi juga Pemerintah Daerah dan masyarakat akan mendapat manfaat dari pendapatan asli daerah," kata dia.

Dengan naiknya harga BBM di tengah kondisi yang ingin bangkit dari masa pandemi covid-19 saat ini justru akan menambah beban berat bagi masyarakat. "Kami ingin pulih lebih cepat bangkit lebih kuat. Tapi kalau dihantam lagi dengan kenaikan BBM ini masyarakat akan semakin susah lagi untuk bangkit. Ditambah lagi transportasi online kalau naik terlalu tinggi konsumen tidak bisa menerima sehingga permintaan transportasi makin turun lagi dan kawan-kawan pengemudi transportasi online akan dirugikan dengan itu. Naik tarif bukan menjadi berkah malah menjadi sebuah musibah," kata dia.

Deni Zulniyadi








Berita Terkait



Komentar