#kekerasanperempuan#beritalampung#humaniora

Garnita NasDem Soroti Kekerasan Terhadap Perempuan

( kata)
Garnita NasDem Soroti Kekerasan Terhadap Perempuan
Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Garda Wanita (Garnita) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasional Demokrat (NasDem) Provinsi Lampung menjadi garda terdepan untuk menyoroti persolan kekerasan terhadap perempuan. Partai Restorasi Perubahan tersebut secara tegas bahwa perempuan harus dilindungi.

Sekretaris DPW Garnita Nasdem Lampung Vony Reyneta Dolok Saribu prihatin terkait kabar divonisnya seorang anak perempuan asal Jambi yang menjadi korban pemerkosaan incest (sedarah) dari kakaknya sendiri. Remaja berinisial WA (15 Tahun) itu divonis bersalah karena melakukan aborsi dan melanggar pasal 77 juncto pasal 45 A UU Perlindungan Anak.

"Kasus ini merupakan persoalan yang harus ditelaah dalam konteks pemenuhan Hak Anak Berhadapan Hukum (ABH), baik sebagai korban sekaligus pelaku. Dalam perkara ini, anak diposisikan sangat lemah untuk menolak, melawan dan mengadukan kekerasan seksual yang dialaminya," katanya melalui pesan whatsappnya, Jumat (3/7/2018).

Ia mengatakan sebagai korban perkosaan seharusnya ia mendapatkan haknya untuk mendapatkan penanganan aborsi yang aman yang dilakukan sesuai dengan UU Kesehatan, yakni dilakukan melalui proses konseling pra dan pasca tindakan dengan konselor yang kompeten (Pasal 75 ayat (3) UU Kesehatan). Dalam kasus WA, hak-hak korban ini sama sekali tidak terpenuhi, justru yang terjadi WA dikriminalisasi dengan tuduhan melakukan aborsi tidak sesuai dengan prosedur.

"Posisi WA sebagai anak yang mengalami trauma harusnya dibantu untuk mengakses hak-hak kesehatan reproduksinya. Kondisi ini harusnya menjadi keprihatinan bersama khususnya bagi pihak-pihak terkait yang memiliki tanggung jawab, bukan malah memberikan dukungan atas kriminalisasi anak korban,” kata Mantan Direktur LBH Apik ini

Ia juga menyatakan prihatin mengenai tontonan video porno yang menjadi penyebab si kakak melakukan pemerkosaan, hal itu juga harus dikritisi sebagai ancaman terhadap penetrasi budaya kekerasan terhadap anak perempuan yang ironisnya terjadi di lingkungan keluarga terdekat. Untuk itu, ia mendesak segera dilakukannya pembahasan dan mensahkan RUU Penghapusan Kekerasan seksual agar tidak semakin banyak korbanpemerkosaan mendapatkan ketidakadilan dan tidak akan ada lagi yang menjadi korban serupa.

“Memang kasus ini tidak terjadi di Lampung, tapi tidak menutup kemungkinan ada kejadian serupa. Kita harus peduli agar tidak ada lagi anak perempuan lain yang mengalami nasib seperti WA,” kata Vony.

Triyadi Isworo







Berita Terkait



Komentar