#nuansa#gender#jenis-kelamin

Gap Gender

( kata)
Gap Gender
Ilustrasi Pixabay.com


Wandi Barboy

Wartawan Lampung Post

TIAP kali membincangkan kesetaraan gender, kenapa yang terjadi selalu sebaliknya: gap gender? Apakah gender itu lebih baik tidak dibincangkan agar jurang pemisah itu tidak terjadi atau seperti apa?

KBBI daring mendefinisikan gap dengan kesenjangan, sementara gender dalam KBBI diartikan sebagai jenis kelamin.

Ini sekelumit catatan saya yang resah dengan kekerasan demi kekerasan yang terjadi pada perempuan. Bukankah di zaman yang serbamaju dengan segala seperangkat struktur teknologi informasi ini mestinya tidak terjadi lagi kekerasan terhadap perempuan?

Emansipasi sejak zaman Raden Ajeng Kartini sudah terus digaungkan. Kesetaraan gender juga berbilang puluhan tahun telah dibahas. Namun, semua itu tidak menghilangkan kekerasan yang terjadi terhadap perempuan.

Kekerasan bukan dalam artian fisik, melainkan dalam bentuk kekerasan spiritual. Ideologis pun bisa dimasukkan di sini. Apakah budaya patriarki di negeri ini terlalu kuat membelenggu kaum perempuan? 

Dalam keterangan tertulis yang saya terima, World Economic Forum (WEF) tahun ini menempatkan Indonesia berada pada peringkat 8 (Asia Pasific) terkait Kesenjangan Gender Global. Sementara Indeks Pemberdayaan Gender 2019 dari BPS dengan alat ukur menempatkan perempuan sebagai tenaga profesional di Indonesia persentasenya masih berada pada kisaran antara 35% hingga 55%.

Dalam dunia jurnalistik, ketidakadilan dan ketidaksetaraan juga terjadi. Menurut laporan The International Women’s Media Foundation (The IWMF) dalam laporan Global Report on the Status of Women in the News Media yang dirilis pada 2011, dari 522 perusahaan pers yang mereka teliti di seluruh dunia, jurnalis perempuan yang bekerja full time hanya 33,3%.

Menurut laporan tersebut, posisi sebagai news gathering, reporter, dan penulis (editor) juga masih didominasi laki-laki. Angkanya mencapai 64%, sedangkan perempuan hanya mencapai 36%. Artinya, perlu upaya bersama berbagai pihak untuk menekan gap gender ini.

Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day (IWD) tahun ini baru saja berlalu. Lampung juga melalui Aliansi Perempuan Lampung Menggugat telah menggelar aksinya di Tugu Adipura, Minggu (8/3). Tulisan pada karton yang dibentangkan para aktivis perempuan itu menarik perhatian.

Beraneka tulisan itu terbentang dengan gagahnya, antara lain “Pakaian Gue Loe Urusin, Birahi Loe, Loe Biarin!”. Kemudian ada tagar perempuan melawan dan catatan dalam awan di poster itu bertuliskan “My Body My Rule.

Ada lagi sejumlah tulisan lainnya: “Aku Lelah Diperkosa Negara”, kemudian ada simbol megafon bertuliskan “Ngape Lu Catcalling Bukan Pujian!”, “Ke Kampus Bukan untuk Dielus”, dst.

Begitulah. Itu semua menandakan kapan pun dan dimana pun perempuan selalu menjadi objek, perempuan selalu lemah di hadapan negara, dan lain sebagainya sikap dan tindak tanduk yang tidak menghargai perempuan yang sesungguhnya setara dengan laki-laki. Sesama manusia.

Bambang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar