#beritalampung#beritadaerah#lampung#kalianda#Puso

Gagal Panen, Petani di Lamsel Rugi Ratusan Juta

( kata)
Gagal Panen, Petani di Lamsel Rugi Ratusan Juta
Areal persawahan milik petani Desa Kualasekampung, Kecamatan Sragi, Lampung, yang gagal panen pada musim gaduh 2019, beberapa hari yang lalu. Setidaknya petani telah mengeluarkan modal mencapai jutaan dalam luasan satu hektare. Armansyah

KALIANDA (Lampost.co) -- Akibat musim kemarau, petani yang alami gagal panen atau puso alami kerugian mencapai jutaan rupiah dalam luasan satu hektare. Kerugian itu dikeluarkan petani untuk modal sejak pengolahan hingga penanaman.

Seperti yang diungkapkan, Eko Casroni salah satu petani Desa Sukapura mengaku dampak kemarau mengakibatkan petani alami kerugian. Adapun kerugian yang telah dikeluarkan sejak pengolahan hingga penanaman mencapai Rp5 juta - Rp6 juta per hektare. 

Baca juga: 75 Hektare Sawah Gagal Panen Tak Ikut Asuransi, Petani Gigit Jari

"Ya, kalau kita rinci pengeluaran petani untuk modal punya saya sendiri usia tanaman 30 hari setelah tanam (HST) bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per kotak atau dalam luasan satu hektare mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta per hektare," kata dia, Jumat 13 September 2019. 

Dia mengaku modal yang telah dikeluarkan seperti pengolahan dari pembajakan mencapai Rp1,5 juta, penanaman (Rp1,5 juta), biaya pengairan (Rp900 ribu - Rp1 juta), biaya pemupukan pertama (Rp500 ribu) dan lainnya.

"Belum kalau mau penyemprotan dan penambahan air saat musim kemarau sekarang. Ya, biaya yang saya rincikan sudah pasti untuk lahan satu hektare," kata dia.

Hal senada diungkapkan, Purwanto, petani lainnya. Dia mengaku untuk luasan 0,25 hektare ia telah mengeluarkan modal mencapai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Belum biaya tambahan bila membuat sumur bor atau biaya sedot air. 

"Yang jelas, kalau musim kemarau ini petani mengeluarkan modal cukup banyak dibandingkan musim rendeng. Biasanya selagali modal banyak, petani berani keluar modal tambahan, asalkan tanaman selamat dari gagal panen," kata dia. 

Diketahui, luasan tanaman padi yang dinyatakan gagal panen mencapai 75 hektare. Jika diasumsikan dalam luasan satu hektare modal mencapai Rp5 juta - Rp6 juta, maka petani telah mengeluarkan modal berkisar Rp375 juta - Rp450 juta.

 

Armansyah



Berita Terkait



Komentar