#nuansa#setitikair#jalanlayang#flyover

Flyover Bandar Lampung

( kata)
Flyover Bandar Lampung
Foto: Dok

KEMACETAN lalu lintas sering dikaitkan dengan tingginya kemakmuran masyarakat. Ada benarnya juga, sebab banyaknya jumlah kendaraan yang merayap di jalan raya menunjukkan tingginya kemampuan masyarakat membeli kendaraan.

Seperti halnya di Bandar Lampung. Awalnya jalan-jalan protokol masih terasa luas. Para pengguna jalan mengemudikan kendaraan dengan perasaan lega. Jumlah lampu lalu lintas pun tidak sebanyak sekarang. Angkutan kota (angkot) dan bus DAMRI dalam kota masih menjadi moda transportasi unggulan. Pada masa itu Pemkot Bandar Lampung selalu waswas bila sewaktu-waktu terjadi pemogokan massal sopir angkot karena dapat menimbulkan dampak ekonomi dan sosial ke mana-mana.

Setelah tahun 2000, situasi mulai berubah. Sejumlah perusahaan pembiayaan menggulirkan skema kredit kepemilikan kendaraan dengan uang muka rendah, baik untuk sepeda motor maupun mobil pribadi. Begitu mudahnya membeli (secara kredit) sepeda motor baru, sampai ada yang berujar, "Sekarang ini punya uang lima ratus ribu bisa bawa pulang motor baru."

Tidak berbeda jauh dengan sepeda motor, masyarakat pun lebih mudah memiliki mobil baru. Produsen dan perusahaan pembiayaan kendaraan menyasar masyarakat menengah ke atas dengan menerjunkan tenaga pemasaran. Para sales promosi itu agresif memasarkan mobil pribadi dengan cara menempelkan foto diri berikut nomor kontak di tempat umum, termasuk di kaca belakang angkot.

Akan tetapi, memang sukses produsen otomotif dan perusahaan pembiayaan dalam pemasaran jelas didukung fondasi ekonomi masyarakat yang kuat. Ada barang yang dibeli jelas karena ada uang yang harus dibayarkan melalui skema tertentu, semisal secara kredit. Alhasil, jumlah masyarakat yang memiliki kendaran semakin banyak.

Dalam waktu yang sama, sukses masyarakat dalam memiliki kendaraan tidak sebanding dengan kemampuan pemerintah menambah panjang ruas jalan. Dampaknya, ya macet. Di mana-mana macet dan yang menjadi langganan terutama jalan protokol, terutama di jam-jam sibuk.

Contoh nyata bisa dilihat langsung di Jalan ZA Pagaralam, Jalan Teuku Umar, Jalan Raden Intan, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kartini, Jalan Wolter Monginsidi, Jalan Sudirman, Jalan P Diponegoro, Jalan Gajah Mada, Jalan Antasari, Jalan Sultan Agung, dan Jalan Imam Bonjol.

Pemkot Bandar Lampung sudah berusaha melakukan pelebaran jalan dengan menutup permukaan saluran drainase. Upaya lain dengan membangun flyover dan underpass di titik kemacetan terparah. Tahun ini Pemkot membangun lagi dua flyover di Jalan Untung Suropati dan Jalan Komarudin, Rajabasa.

Kemajuan teknologi saat ini yang berkembang pesat secara eksponensial akan dibarengi pertumbuhan ekonomi. Sampai hari ini, flyover dibangun hanya di persimpangan jalan yang menjadi titik kemacetan. Barangkali 20—30 tahun mendatang flyover justru berfungsi sebagai jalan protokol itu sendiri.

Itu berarti flyover bisa membentang dari Bundaran Tugu Raden Intan di Rajabasa hingga kompleks kantor gubernuran di Telukbetung. Atau dari Garuntang hingga ke Way Kandis. Atau bisa jadi dari Jalan Sultan Agung ke pertigaan di ujung Jalan RE Martadinata. Setiap zaman selalu memiliki tantangan dan solusinya sendiri.

 

D Widodo/Wartawan Lampung Post



Berita Terkait



Komentar