Fitnah

( kata)
Fitnah
Mustaan Basran, wartawan Lampung Post

DI teras belakang rumah majikannya, Kacung masih asyik masyuk berjoget sembari mendengar lagu dangdut di radio kesayangannya. Sedang asyiknya gerakan maju mundur dan sesekali meloncat, tiba-tiba suara radionya berhenti terdengar oleh suara rekannya, Inem, dari dalam rumah.
"Abang, teganya kamu, ya!” teriak Inem. "Kita sudah jadi sahabat puluhan tahun, masih saja kamu nggunteng nang jero lepitan (menggunting dalam lipatan)."
Kacung pun tertegun, ternganga, dan terbelalak melihat Inem. Tapi, segera dia menenangkan Inem, "Ada apa sih, Say?"
"Abang mak pekhnah aga nyani sakha niku (Abang tidak pernah memu membuatmu sengsara). Masak sahabat tersayang mau disakiti sih..." Kacung merayu sahabatnya.
Segera Kacung beringsut mendekati Inem. "Payu kidah, cekhita pai niku (cerita dulu). Biar jelas permasalahannya," lanjutnya.
Kedua sahbaat itu pun langsung terlibat pembicaraan serius. "Abang ini jahat amat... Moso jare tukang iwak aku dielek-elek (Masak kata tukan ikan saya dijelek-jelekkan). Dan, Abang tersangkanya," Inem mulai menurunkan tensi omongannya. "Jangan sampai, Bang, gara-gara salah omongan Abang, tidak ada lagi keharmonisan di kalangan babu kampung ini."
"Emang apa itu yang dikatakan tukang Ikan," tanya Kacung. "Katanya, Abang nuduh saya berbuat mesum dan katanya ada gambar videonya," kali ini Inem bicara sambil matanya berkaca-kaca. "Kalau memang ada, mana dong videonya?" lanjut Inem.
Kacung pun menghela napas dalam-dalam. "Hem, sepertinya saya ini sedang difitnah, Nem. Ada yang sengaja mengadu domba," kata Kacung. "Dang niku pekhcaya jama kabakh juk kheno (Kamu jangan percaya dengan kabar seperti itu). Saya sama sekali tidak pernah ada rasa benci, kecuali benar-benar cinta sama Inem sayang."
Kacung terus nyerocos, memberi pengertian ke sahabatnya itu. "Besok kita temui tukang ikan itu dan klarifikasi alias tabayun," ujar Kacung. "Saya terus berdoa kok, Nem, minta jauhkan dari fitnah dunia, fitnah nekara, fitnah hidup dan mati, serta fitnah dajal. Makanya begitu difitnah, kamu langsung klarifikasi dan menyelamatkan saya, terima kasih."
Inem pun langsung luluh. "Ya sudah, Bang, memang sekarang zamannya fitnah. Ulama saja difitnah, tapi ya berkat doanya tiap fitnah langsung dibuka jawabannya karo Sing Kuoso (Yang Kuasa)," Inem memohon maaf. "Tidak usah kita klarifikasi dengan tukang ikan. Aku wis ra popo (aku sudah tidak apa-apa)."
"Ya sudah, Nem. Sama satu lagi, biar hilang fitnah antara kita. Khepa kik mit penghulu goh? (Bagaimana jika menikah?)" Kacung menggoda Inem. "Aku siap."
Inem langsung cemberut. "Sabar, Bang. Cukupne ndisik tabunganne (cukupkan tabunganmu). Jual saja radiomu itu," kata Inem sembari mengambil radio yang sedang mendendangkan dangdut itu. n

Mustaan Basran, wartawan Lampung Post

Komentar