#nuansa#film#setitikair

Film Pram

( kata)
Film Pram
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Image

INI tentang film Bumi Manusia yang diangkat dari mahakarya sastrawan yang sering didapuk sebagai sastrawan Indonesia terbesar sepanjang masa, Pramoedya Ananta Toer, yang akrab disapa Pram.

Sebagai tonggak dan patokan klaim pertamanya, bisa ditilik dari sampai sekarang belum ada sastrawan Indonesia yang pernah menerima kehormatan sebagai kandidat Nobel Sastra. Maka, perkenankan saya menyebut film ini secara singkat sebagai film Pram. Tepatnya, film yang mengalihwahanakan novel Pram ke dalam sebuah film.

Baru dua hari dirilis, trailer film Bumi Manusia telah ditonton lebih dari 2,3 juta viewer dan memuncaki trending di YouTube. Sutradara Hanung Bramantyo mengungkapkan komposisi pemain film Bumi Manusia yang lintas generasi menjadikan film itu bisa diterima kaum milenial.

Publik, tepatnya, mereka yang disebut generasi milenial dan generasi Z begitu antusias dan penasaran dengan cerita yang sebenarnya bukan hanya kisah percintaan antara Minke dan Annelies semata, melainkan ihwal ketidakadilan dan kesetaraan bangsa-bangsa di dunia.

Ya, banyak prinsip dibentangkan Pram dalam karya pertama dari Tetralogi Buru. Buru? Ya, Pulau Buru yang pada masa rezim Orde Baru dianggap pulau terpencil dan terbuang. Pram menuliskan tugas nasionalnya sebagai pengarang sejak dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik (tapol). Pram adalah sosok yang terhempas dan terbuang jika menyitir ungkapan penyair Chairil Anwar.

Tulisan Bumi Manusia itu sempat dilarang oleh para tentara, Pram memilih menuturkannya secara langsung ke sesama tapol. Ini dilakukannya demi tidak dimakan si lupa, penyakit waktu yang senantiasa menggerogoti para pengarang. Atas desakan internasional, tulisannya kembali diperbolehkan tentara. Lembar demi lembar kertas yang telah dikumpulkannya saat dilarang maupun ketika tidak dilarang akhirnya menjadi buku jua. Begitu heroik!

Sekuat angkatan muda yang heroik menumbangkan rezim Orde Baru. Tidak heran, jika dalam sejumlah wawancara, Pram amat menyukai kaum muda dan angkatan muda. Simak salah satu pernyataannya tentang orang muda: “Jangan berlagak tidak mengerti. Kalian itu cukup mengerti apa yang harus kalian lakukan untuk Indonesia dan demi diri kalian sendiri. Bergerak terus sampai tujuan."

Maka, di pungkasan kalimat ini saya ingin mengambil sekadar perbandingan sederhana. Tentu saja perbandingan ini dari sudut pandang saya saja. Manakah yang terbesar, film Bumi Manusia yang disukai jutaan anak muda milenial atau karya Pramoedya Ananta Toer? Tanpa berpikir panjang, saya akan menuliskan karya Pramoedya Ananta Toer-lah yang terbesar. Menurut hemat saya, sederhana saja. Film ini berjudul Bumi Manusia. Film yang sedari judul telah menunjukkan kekuatan pemikiran dan prinsip Pram semasa hidupnya. Mestikah diherankan jika saya menyebutnya film Pram?

Wandi Barboy/Wartawan Lampung Post



Berita Terkait



Komentar