#bew#buras#kemiskinan

'Fighting Spirit' Lepas Kemiskinan!

( kata)
'Fighting Spirit' Lepas Kemiskinan!
H. Bambang Eka Wijaya- dok Lampost.co

DI zaman penjajahan tempo doeloe, buruh perkebunan di Sumatera Utara disebut kuli kontrak. Mereka didatangkan dari Jawa. Kalau sakit mereka ditampung di Kamar Tempo, sejenis poliklinik rawat inap sederhana yang ditangani mantri.

Mantrinya cermat, hanya yang benar-benar sakit dilayani dan boleh istirahat di Kamar Tempo. Kalau yang hanya kelelahan coba-coba istirahat menikmati Kamar Tempo, oleh mantri diberi layanan spesial. Jika mengaku demam, diberi pil kina yang harus dilahap di depan mantri. Kalau mengaku sakit perut, diberi garam inggris.

Akibatnya, yang diberi pil kina sehari mulutnya menderita kepahitan tak kepalang, banyak minum pun pahitnya tak hilang. Sedang yang diberi garam inggris, sepanjang hari tak henti buang air besar, tak bisa istirahat.

Paksaan kerja berat tanpa istirahat membuat kuli kontrak bulat tekadnya untuk keluar dari penindasan saat habis kontrak tiga tahun. Kebulatan tekad itu menjadi fighting spirit atau semangat juang mereka untuk lepas dari penderitaan.

Untuk itu, meski gaji kecil, mereka menabung. Ditambah ongkos pulang ke Jawa saat habis kontrak, mereka tidak pulang ke Jawa. Sebab, sampai Jawa uangnya bisa habis dan kembali tak punya apa-apa. Mereka umumnya dengan uang yang sedikit itu membeli tanah garapan di sekitar wilayah perkebunan. Maka itu, sejak zaman penjajahan desa-desa di sekitar perkebunan itu diberi nama beridiom Jawa, termasuk yang kini jadi Kota Medan. Beda dengan provinsi lain yang nama beridiom Jawa itu umumnya bawaan transmigran.

Kata kunci kuli kontrak bertekad bulat melepas penderitaan kuli dan keluar dari perkebunan adalah fighting spirit atau semangat juang mereka. Mungkin, semangat sejenis yang diperlukan warga miskin untuk lepas dari kemiskinan yang menjeratnya.

Semangat itu di Lampung terkesan kurang menonjol di kalangan warga miskin. Buktinya, jumlah orang miskin di Provinsi Lampung Maret 2019 sebanyak 1.06 juta jiwa atau 12,62% dari penduduk, hanya berkurang 30 ribu orang sepanjang satu semester, dari September 2018 sebanyak 1,09 juta jiwa atau 13,01%. Jauh dari persentase nasional, Maret 2019 pada 9,41%.

Padahal warga miskin itu mendapat berbagai bantuan, program keluarga harapan (PKH), BPJS Kesehatan, dan sebagainya, tapi mereka "bertahan" hidup di bawah garis kemiskinan.

Untuk menyulut semangat juang hengkang dari lembah kemiskinan, mungkin mereka perlu disiapkan Kamar Tempo dan mantri yang siap dengan pil kina dan garam inggris.

H. Bambang Eka Wijaya

Berita Terkait

Komentar