#lingkungan#kemasan#fgd#nasional

FGD Mengenal Bahan Kemasan Ranah Lingkungan

( kata)
FGD Mengenal Bahan Kemasan Ranah Lingkungan
(Foto: Dok)

KARAWANG (Lampost.co)--PT Trinseo Materials Indonesia dan PT Kemasan Cipta Utama bekerja sama menggelar seminar, Focus Group Discussion dan kunjungan pabrik Kemasan Group di Hotel Batiqa, Karawang, Jabar.

Seminar denga tema  “Mengenal Lebih Dalam Tentang Polistirena Busa untuk Kebaikan Manusia dan Lingkungan” menghadirkan narasumber Presiden Direktur Kemasan Group Wahyudi Sulistya, Presiden Direktur PT Kemasan Group Wahyudi Sulistya, pengajar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Akmal Zainal Abidin,Presiden Direktur Trinseo Indonesia, Hanggara Sukandar.

Seminar bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang polistirena sebagai bahan yang bermanfaat untuk kehidupan manusia serta melihat fakta ilmiah terkait isu polistirena yang beredar di Indonesia.

Menurut Wahyudi Sulistya, Rabu (26/6), tidak ada satu negara pun di dunia yang melarang penggunaan styrofoam atas dasar pertimbangan kesehatan.
Styrofoam memiliki sejumlah keunggulan antara lain menggunakan sumber daya minimal, ringan dan mudah dibawa, ekonomis dan harga terjangkau,  serta bersih dan hygienis (unsur dari luar susah menembus dinding PS).

Styrofoam juga mampu menahan suhu makanan tetap hangat (bersifat insulator), mudah didaur-ulang (mengurangi penebangan pohon untuk pemakaian kertas), serta aman dan tanpa bahan kimia berbahaya.

Menurut pengajar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Akmal Zainal Abidin, sampah polistirena bisa didaur ulang dengan sentuhan teknologi, salah satunya bisa menjadi panel beton ringan.
Styrofoam merupakan sampah yang belum dimanfaatkan, dan jumlahnya 4,9% dari 4 jenis sampah yang ada.
"Tetapi sampah yang 4,9% ini banyak mewarnai isu lingkungan," katanya. 
Dari berbagai jenis sampah, katanya, sampah busuk merupakan sampah dengan jumlah terbanyak  (62%), disusul sampah yang bisa didaur ulang (20%), sampah yang tidak bisa didaur ulang tetapi bisa dibakar untuk diambil energinya (13%), dan sampah yang belum dimanfaatkan (4,9%), seperti polistirena (styrofom).

Terkait pengelolaan sampah, Asrul Hoesein dari Divisi Bank Sampah Asosiasi Daur Ulang Plastik, meminaata pemerintah  melaksanakan Pasal 13, 44, dan 45 UU 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Pasal-pasal itu mengatur agar sampah dikelola daerah tempat terjadinya timbulan sampah sehingga tidak ada lagi sampah keluar dari kawasan itu.
Menariknya, konsep dalam pasal-pasal ini  yang justru dijalankan di Singapura dan negara-negara di dunia yang lingkungannya bersih. 

"Harusnya, pemerintah fokus di tiga pasal itu, bukan dengan kebijakan kantong plastik berbayar yang dananya tidak jelas ke mana," kata Asrul.

Presiden Direktur Trinseo Indonesia, Hanggara Sukandar, mengatakan sebagai produsen plastik pihaknya melakukan operation clean sweep, yakni mencegah serpihan plastik sekecil apa pun mengalir ke laut dengan memasang semacam jaring pengaman.

Rilis

Berita Terkait

Komentar