#buras#festival-danau-toba#festival-krakatau

FDT Ditiadakan, Festival Krakatau?

( kata)
FDT Ditiadakan, Festival Krakatau?
Ilustrasi Festival DAnau Toba (MEDCOM.ID/DOK)

GUBERNUR Sumatera Utara Edy Rahmayadi memutuskan untuk tidak menggelar Festival Danau Toba (FDT) 2020. Alasannya, festival tersebut dianggap tidak bermanfaat untuk mendatangkan wisatawan ke Danau Toba.

Lalu bagaimana dengan Festival Krakatau, yang nasibnya cenderung mirip FDT, turis asing yang hadir saat festival sering hanya tamu-tamu undangan, para duta besar negara sahabat, yang dibiayai pelayanan tuan rumah?

Keputusan Gubernur Edy antara lain berdasar pada evaluasi DPRD-nya yang menilai pelaksanaan FDT tahun 2019 gagal mendatangkan turis ke Danau Toba. Kritik tajam itu dilantunkan langsung Ketua DPRD Sumatera Utara Baskami Ginting.

"Kita sangat sesalkan kegagalan FDT ini, tidak ada nilai jual yang ada di sana," tukas Baskami. (Kompas.com, 11/01)

Festival promosi pariwisata sejenis FDT, di Lampung Festival Krakatau, menghabiskan biaya tidak sedikit. Pada tingkat Pemprov, harus menyajikan pertunjukan kesenian daerah yang komprehensif mencerminkan kemegahan budaya daerahnya. Bukan hanya sajian keseniannya, melainkan mobilisasi warga masyarakat mengikuti acara festival beberapa hari dan malam.

Lalu semua kabupaten dan kota mendukung dengan acara kekhasan daerahnya, sekaligus memobilisasi massa penonton. Kemudian, ikut menyiapkan barisan parade budaya pada acara puncak, dengan pawai keliling ibu kota provinsi.

Jadi biaya yang dikuras bukan hanya dari Pemprov, tapi juga dari semua kabupaten dan kota seluruh provinsi. Untuk itu alangkah tepat DPRD Sumatera Utara untuk melakukan evaluasi kesebandingan pengeluaran dengan hasilnya, yang terbukti bukan hanya tidak memuaskan, melainkan malah amat mengecewakan.

Gubernur Edy kemudian mengusulkan untuk mengganti bentuk acaranya yang bisa mendatangkan turis. Misalnya, triatlon. Mungkin Edy membandingkan dengan Sumatera Barat, yang sukses meramaikan wisatawan datang dengan sajian acara Tour de Singkarak: balap sepeda perorangan dan beregu berkelas internasional.

Untuk Festival Krakatau, tentu DPRD dan Pemprov Provinsi Lampung harus jujur dan kreatif menilai setelah melakukan evaluasi. Kenapa Festival Krakatau yang telah puluhan tahun dilaksanakan itu terkesan begitu-begitu terus. Sebuah repetisi tahunan yang deja vu.

Utamanya tamu asing yang datang sering cuma duta-duta besar dan korps konsuler negara sahabat yang diundang atas fasilitas panitia? Kalaupun ada turis asing bersifat regular yang tak signifikan, sedang turis asing “festival season nyaris tak tetlihat. ***

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar