#obatobatan#gagalginjal

Fatality Rate Tinggi Bukti Negara Gagap Tangani GGA

( kata)
Fatality Rate Tinggi Bukti Negara Gagap Tangani GGA
Salah satu anggota KPCDI, terdiagnosis penyakit gagal ginjal pada saat usia kelahiran sekitar 1 bulan pada 2016 dikarenakan penyakit sindrom nefrotik congenital. Bayi bernama Rafif itu meninggal pada 2020 lalu. dok/KPCDI


Bandar Lampung (Lampost.co) – Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menyoroti buruknya kerja dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di balik tingginya kasus misterius gagal ginjal pada anak-anak.

Ketua Umum KPCDI, Tony Richard Samosir, mengatakan tingginya fatality rate kasus gagal ginjal akut (GGA) di Indonesia menjadi salah satu bukti ketidaksanggupan negara dalam menghadapi kasus tersebut.

"Tingkat kematiannya sangat tinggi atau di atas 50% dari jumlah yang dilaporkan. Jika benar kematian itu karena adanya kandungan DEG dan EG di beberapa sirop, maka pemerintah harus bertanggungjawab," kata Tony, Rabu, 26 Oktober 2022.

Dia mengatakan, selain industri farmasi yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan mutu obat, BPOM sebagai pemangku kepentingan juga harus bertanggungjawab. Sebab, salah satu tugas dan fungsi BPOM mengeluarkan izin edar obat atau makanan hingga dapat dikonsumsi masyarakat secara aman.

“Semua tahu BPOM tugasnya melakukan pengawasan pre-market dan post-market. Mereka juga menjadi pihak yang melakukan uji laboratorium guna mengetahui kandungan obat, lalu kenapa bisa kecolongan seperti itu," kata dia.

Salah satu anggota KPCDI Lampung, Sofia, mengatakan kejadian GGA itu bisa dikatakan sebagai fenomena gunung es yang selama ini dialami pasien gagal ginjal akut pada anak di Indonesia.

"Kejadian ini sekaligus membuka tabir pemerintah yang melupakan sistem kesehatan ginjal tidak hanya bagi orang dewasa namun juga pada anak. Saat ini, fasilitas kesehatan ginjal di Indonesia cenderung sangat minim dan tidak merata," ujarnya.

Perlu diketahui, lanjut dia, jika anak terdiagnosis gagal ginjal akut ada dua metode terapi yang bisa digunakan. Pertama terapi konservatif dengan konsumsi obat-obatan dan dengan terapi cuci darah atau dialisis.

"Sayangnya, poin kedua fasilitas kesehatan itu belum merata dengan baik di Indonesia. Hanya ada 14 rumah sakit rujukan yang ditunjuk Kemenkes bagi pasien GGA anak," kata dia.

Sementara itu berdasarkan data KPCDI, ada puluhan orang tua yang harus menempuh jarak ratusan kilometer dari daerah asal ke Jakarta, untuk melakukan pengobatan anaknya yang didiagnosa penyakit ginjal.

“Kami KPCDI mendesak pemerintah agar segera membangun fasilitas kesehatan ginjal pada anak, khususnya menyediakan mesin cuci darah untuk anak. Sebab, memang saat ini terbatas jumlahnya. Makanya setelah terjadi kejadian ini yang membutuhkan cuci darah, kematian pada anak cukup tinggi karena fasilitasnya sangat minim dan sistem antrean yang panjang,” kata ujarnya.

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar