#beritalampung#beritabandarlampung#kekerasananak

Faktor Ekonomi dan Pola Asuh Jadi Penyebab Kekerasan pada Anak

( kata)
Faktor Ekonomi dan Pola Asuh Jadi Penyebab Kekerasan pada Anak
Ilustrasi. Foto: Google Images


Bandar Lampung (Lampost.co): Faktor ekonomi dan pola asuh menjadi penyebab kekerasan dari orang tua kepada anaknya.

Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Kota Bandar Lampung, Ahmad Apriliandi Passa menilai jika faktor ekonomi berimbas pada anak sering dijadikan mesin pencetak uang dan berakibat pada kekerasan ke depannya.

"Ada anak yang dipekerjakan untuk mencari uang. Seperti tahun lalu yang sempat viral, selain itu juga pola asuh keluarga yang tidak harmonis," katanya, Jumat, 6 Januari 2023.

Dari kedua penyebab tersebut ia meminta semua stakeholder untuk melakukan edukasi di tengah-tengah masyarakat, khususnya di sekolah.

"Ada SD sampai dengan SMA itu perlu ada edukasi antikekerasan yang bisa dilakukan. Kemudian di lingkungan tempat tinggal melalui pamong setempat agar berkesinambungan antara lingkungan tempat tinggal dengan sekolah," katanya.

Selain itu juga pihak orang tua harus diberi pemahaman soal antikekerasan terhadap anak serta pola asuh yang baik.

"Kalau saya bilang ya pola asuh anak perlu diberikan kepada orang tua," ujarnya.

Passa menambahkan data Komnas PA Bandar Lampung mencatat ada sebanyak 48 laporan kasus kekerasan pada anak terjadi selama tahun 2022 menyampaikan, Data itu dikategorikan 7 kasus antara lain, pencabulan, penelantaran, sengketa anak, anak bermasalah hukum, pendidikan, KDRT pada anak dan bullying.

"Rincian kategori kasus yaitu pencabulan 13 kasus, penelantaran 5 kasus, sengketa anak 9 kasus, anak bermasalah hukum 4 kasus, pendidikan 4 kasus, KDRT pada anak 9 kasus dan bullying 4 kasus," terangnya.

Dari data yang dimiliki Komnas PA Bandar Lampung, kasus kekerasan terhadap anak naik selama kurun waktu 2020 hingga 2022 yaitu, 26 kasus di tahun 2020, 34 kasus tahun 2021 dan 48 kasus tahun 2022.

Menurutnya edukasi masyarakat melalui media sosial atau media online juga sangat membantu masyarakat untuk melaporkan kasus terkait anak.

"Angka-angka ini jika kami bilang adalah data yang sebatas permukaan saja, masih banyak kasus yang di masyarakat yang tidak terlaporkan dan tidak tertangani," pungkasnya.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar