#baksosony#pajak#tappingbox

Fakta Menarik Bakso Sony, Berawal Satu Gerobak hingga Terseret Polemik Pajak

( kata)
Fakta Menarik Bakso Sony, Berawal Satu Gerobak hingga Terseret Polemik Pajak
Sajian khas Bakso Sony, Bandar Lampung. Metro TV Lampung/Putri Purnama


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Polemik Bakso Sony dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung melalui Tim Pengendalian Pemeriksaan Pengawasan Pajak Daerah (TP4D) masih berlanjut. Pertentangan dimulai dari penyegelan enam gerai karena dianggap mengabaikan pajak yang ditaksir hingga mencapai miliaran rupiah, hingga 'surat cinta' yang ditempel pihak manajemen bertuliskan kalimat perpisahan untuk pecinta si bulat nan populer di Bandar Lampung itu. 

Bakso Sony mengawali bisnisnya pada 21 Februari 1996 dengan motto perusahaan 'Saya yakin bahwa bisnis kami akan memiliki konsumen yang jelas dan pangsa pasar yang besar'. Nama pemiliknya adalah Sony Hadi Sucipto, pria yang ternyata bukan Lampung, melainkan Sragen, Jawa Tengah. 

Disitat dari skripsi Analisis Pengaruh Brand Image dan Word of Mouth (WOM) Terhadap Keputusan Pembelian Produk dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi pada Bakso Son Haji Sony I-X Bandar Lampung) :2016, penulis Ervina Rahayu mencatat, rintisan bisnis Bakso Sony bermula di Jawa dengan bermodalkan gerobak bakso keliling.

Gerai pertama Bakso Sony di Lampung adalah yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi, samping RS Bumi Waras. Gerai itu pula yang pertama kali disegel Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) pada 8 Juni 2021 lalu.

Baca: Pemkot segera Layangkan Surat Peringatan Ketiga untuk Bakso Sony

 

Ciri khas dan cita rasa Bakso Sony rupanya tak datang begitu saja. Sang pemilik bahkan mendatangkan mesin khusus buatan Eropa seharga Rp2 miliar demi menghasilkan olahan bakso dengan nilai dan kualitas yang dianggap baik. Faktanya, modal miliaran rupiah itu pun tidak sia-sia, Bakso Sony hingga saat ini menjadi salah satu ikon kuliner Provinsi Lampung. Bahkan banyak konsumen yang mau merogoh kocek lebih dalam untuk memesan pada jasa titip (jastip) demi sajian Bakso Sony.

Dengan penikmat yang tak hanya berasal dari Lampung, Bakso Sony berkembang pesat hingga memiliki peternakan sapi sendiri yang terletak di daerah Jatimulyo, Lampung Selatan (Lamsel).

Belakangan, nama Bakso Sony kian akrab di telinga. Bedanya, perbincangan tak lagi melulu soal rasa, melainkan banyaknya kabar di media pemberitaan maupun obrolan di media sosial ihwal polemik pajak yang dibuktikan dengan keengganan memasang tapping box alias alat perekam transaksi yang merupakan hasil rekomendasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.

Akibatnya, enam gerai sudah disegel dan dipasang garis kuning TP4D Bandar Lampung. Bahkan Kepala BPPRD Bandar Lampung, Yanwardi menyebut, potensi pajak yang harus dibayar Bakso Son Haji Sony mencapai Rp400 juta per bulan, namun yang disalurkan hanya Rp 150 juta per bulan. Alhasil, Pemkot Bandar Lampung mengaku rugi hingga Rp250 juta per bulan lantaran pajak yang bersumber dari pelanggan itu tak juga disetorkan.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar