#tsunami#erupsiGAK

Erupsi GAK Hantui Korban Tsunami

( kata)
Erupsi GAK Hantui Korban Tsunami
Salah satu korban tsunami yang menempati hunian sementara (huntara) di Desa Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, menunjukkan kamar mandi yang rusak setelah ditimpa pohon besar, Rabu, 1 Januari 2020. Lampost.co/Armansyah

Kalianda (Lampost.co) -- Rasa trauma akibat bencana tsunami Selat Sunda yang terjadi setahun lalu masih menyelimuti benak masyarakat Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Perasaan tersebut terus mengantui mereka.

Masyarakat di kecamatan setempat baru saja mengenang satu tahun bencana tsunami yang terjadi tepat pada 22 Desember 2018 lalu. Tapi, kini rasa trauma itu kembali menghantui masyarakat setempat.

Bagaimana tidak, erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang kembali menyemburkan abu vulkanik hingga ketinggian mencapai 2 kilometer. Bukan hanya itu, hujan deras disertai embusan angin kencang menambah kegelisahan warga Kecamatan Rajabasa.

Peristiwa alam itu membuat masyarakat kebingungan dan sebagian kembali mengungsi karena khawatir akan terjadinya musibah. Hal itu dialami salah satu korban tsunami yang kini tinggal di hunian sementara (huntara) Desa Waimuli Timur, Kecamatan Rajabasa, Agus Abidin (39).

Mendengar informasi adanya erupsi membuat sebagian warga Way Muli mengungsi ke dataran tinggi. "Mendengar kabar Gunung Anak Krakatau erupsi yang menyemburkan abu vulkanik dan waktu itu angin juga cukup kencang membuat warga banyak yang mengungsi karena masih trauma," katanya saat ditemui di huntara, Rabu, 1 Januari 2020.

Selain itu, Iwan Susanto (37), korban tsunami lainnya, mengaku sebagian besar warga mengungsi akibat mendengar GAK kembali erupsi. Bukan hanya itu, korban tsunami yang menghuni huntara waswas adanya angin kencang hingga menumbangkan pepohonan di sekitaran tempat tinggal sementara itu.

"Iya, Mas, yang rumahnya dekat pantai pada mengungsi ke atas. Warga di huntara mengungsi juga. Kami takut pohon tumbang. Satu pohon besar di huntara sudah ada yang tumbang dan mengenai fasilitas huntara, yakni WC dan kamar mandi umum. Memang tidak ada korban jiwa, namun kondisi ini membuat masyarakat semakin khawatir," katanya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar