#pbb#beritainternasional

Erdogan Desak PBB Jadi Organisasi yang Lebih Berpengaruh

( kata)
Erdogan Desak PBB Jadi Organisasi yang Lebih Berpengaruh
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperlihatkan gambar pengungsi Suriah dalam pidato di Sidang Majelis Umum ke-77 PBB di New York, AS, 20 September 2022. (Anna Moneymaker / Getty / AFP)


New York (Lampost.co) -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memanfaatkan pidatonya di Sidang Majelis Umum ke-77 PBB untuk menyoroti sepak terjang negaranya dalam beragam konflik global, mulai dari perang sipil di Suriah hingga invasi Rusia di Ukraina.

Pidato Erdogan disampaikan di saat Turki tengah dilanda inflasi yang sangat tinggi hingga 80 persen. Namun sejumlah analis menilai angka sebenarnya mungkin lebih tinggi lagi dari itu.

Erdogan menyalahkan inflasi sebagai imbas dari tingginya harga pangan dan energi di pasar global, bukan akibat kesalahan kebijakan pemerintahannya.

Namun, inflasi bukan menjadi fokus pidato Erdogan. Ia berfokus pada penekanan peran Turki di kancah global, dengan mengatakan selama ini negaranya selalu berusaha menjadi bagian dari solusi beragam konflik yang terjadi di seluruh dunia.

Menyinggung beberapa isu hangat, Erdogan juga berbicara tentang perlunya stabilitas di Irak, pemilihan umum yang adil di Libya, ketahanan pangan di Tanduk Afrika, status kenegaraan Palestina, hak-hak Muslim Rohingya di Myanmar dan Muslim Uighur di Tiongkok, serta perlunya membela Muslim dari pandangan anti-Muslim secara global.

Baca juga: Krisis Energi di Eropa Makin Parah, Erdogan Salahkan Sanksi ke Rusia

Selain itu pidatonya juga menyoroti peran Turki dalam berbagai konflik, termasuk operasi melawan pejuang Kurdi di Suriah, diplomasi tingkat tinggi di Ukraina, kehadiran pasukan di Libya, ketegangan berkepanjangan dengan Siprus dan Yunani, serta dukungan setia untuk Azerbaijan terkait konflik dengan Armenia.

"Semua bencana yang mempengaruhi jutaan orang ini menunjukkan PBB harus jauh lebih efektif, jauh lebih berpengaruh," ujar Erdogan, seperti dikutip dari laman Channel News Asia pada Rabu, 21 September 2022.

Dalam konflik Ukraina, Erdogan tampil sebagai salah satu pemain utama. Turki sendiri sebagai anggota NATO yang memasok Ukraina dengan drone mematikan untuk membantu mengalahkan pasukan Rusia.

Selama invasi di Ukraina terjadi pada Februari, Erdogan beberapa kali bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam konflik itu, Turki bersama PBB menjadi mediator yang mendorong Rusia dan Ukraina menyepakati perjanjian ekspor pangan.

Selain itu, Turki juga menampung sekitar empat juta pengungsi Suriah. Saat pidato, Erdogan sempat menunjukkan foto anak-anak pengungsi Suriah yang meninggal dunia akibat konflik. Ia mencoba menekankan kepada PBB bahwa warga Suriah memerlukan dukungan berkelanjutan.

Orang nomor satu di Turki itu juga tak segan mengatakan PBB agar bisa lebih inklusif dan Dewan Keamanan PBB harus bersifat lebih demokratis serta fungsional.

"Dunia lebih besar dari sekadar lima (negara)," ujarnya, mengacu pada lima anggota tetap DK PBB.

Pria 68 tahun itu memimpin negara Turki selama hampir 20 tahun. Ia sebelumnya menjabat sebagai perdana menteri hingga akhirnya menjadi presiden sampai saat ini. 

Namun, dukungan untuk Erdogan dan partainya menurun akibat krisis biaya hidup. Erdogan selamat dari upaya percobaan kudeta pada 2016. Percobaan kudeta itu direspons Erdogan dengan operasi bersih-bersih berskala luas di Turki. 

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar