#internasional#beritainternasional

Erdogan Ancam Bekukan Pencalonan Anggota NATO Swedia dan Finlandia

( kata)
Erdogan Ancam Bekukan Pencalonan Anggota NATO Swedia dan Finlandia
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berada di Istanbul, 15 Juli 2022. (OZAN KOSE / AFP)


Ankara (Lampost.co) -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuntut Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk memenuhi persyaratan yang diajukan negaranya terkait pencalonan Swedia dan Finlandia sebagai anggota baru. 

Ia mengancam akan membekukan pencalonan tersebut jika NATO tak kunjung mengambil tindakan.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Madrid akhir Juni lalu, Erdogan menuduh Swedia dan Finlandia menyediakan tempat pengungsian bagi militan Kurdi. Ia pun meminta kedua negara tersebut untuk melakukan tindakan dalam perang melawan terorisme.

"Saya ingin tegaskan sekali lagi, kami akan membekukan proses ini apabila negara-negara tersebut tidak mengambil langkah-langkah untuk memenuhi persyaratan kami," ucap Erdogan dalam pertemuan dengan Rusia dan Iran, dilansir dari The National News, Selasa, 19 Juli 2022.

Baca juga: Erdogan Tolak Perwakilan Swedia dan Finlandia Datang ke Turki

"Secara khusus kami menilai Swedia tidak memiliki citra yang baik dalam isu ini," tambahnya. 

Bulan ini, NATO memulai prosedur aksesi keanggotaan bagi Swedia dan Finlandia setelah tercapainya kesepakatan dengan Turki. Sebelumnya, Turki menghalangi kedua negara tersebut untuk bergabung dengan NATO.

Erdogan menuduh Swedia dan Finlandia menyediakan tempat pengungsian bagi militan Kurdi, khususnya Partai Pekerja Kurdistan (PKK), kelompok yang dianggap teroris.

Sementara itu juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Ned Price, tidak secara spesifik menyinggung pernyataan Erdogan. Namun, hanya merujuk pada persetujuan Turki mengenai keanggotaan baru di dalam NATO.

"Turki, Finlandia, Swedia, Mereka telah menandatangani Memorandum Trilateral di Madrid untuk memulai proses ini," kata Price.

"Amerika Serikat akan terus bekerja dengan ketiga negara tersebut untuk memastikan proses serta ratifikasi aksesi ini. Di seluruh dunia berlangsung secepat dan seefisien mungkin," tambahnya.

Erdogan bertolak menuju ke Iran pada Senin malam untuk berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Ebrahim Raisi pada Selasa ini. Ia berharap bisa mendapat persetujuan dari Putin dan Raisi untuk melakukan intervensi bersenjata di barat laut Suriah.

Sejak Mei lalu, Ankara mengancam meluncurkan operasi militer dengan menciptakan 30 kilometer zona keamanan di sepanjang perbatasannya dalam upaya menghadapi militan Kurdi yang terus melakukan pemberontakan terhadap Turki. Moskow dan Teheran menyatakan pertentangan mereka terhadap serangan semacam itu.

Rusia, Turki, dan Iran adalah tiga pemain utama di balik perang Suriah sipil sejak 2011. Rusia dan Iran berada di balik rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad, sementara Turki mendukung sejumlah kelompok pemberontak di Suriah. 

 

 

 

Effran Kurniawan






Berita Terkait



Komentar