#MEDIA#KONVERGENSIMEDIA

 Era Konvergensi Perluas Kebebasan Berekspresi

( kata)
 Era Konvergensi Perluas Kebebasan Berekspresi
Waka Humas dan Kerja Sama Kwarda Pramuka Lampung Dr H Iskandar Zulkarnain, selaku aktivis digital culture memaparkan ihwal konvergensi pada Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Lampung-Bandar Lampung. Lampost.co/Umar Robani


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kemajuan teknologi mendorong terjadinya perkembangan media massa menjadi berbagai platform. Dari media tradisional yang bersifat analog, menjadi media baru yang bersifat digital.

Waka Humas dan Kerja Sama Kwarda Pramuka Lampung Dr H Iskandar Zulkarnain, menyatakan karena kemajuan teknologi yang menderas di segala lini, ruang berekspresi publik pun menjadi lebih beragam. Media menjadi salah satu ruang kebebasan berekspresi, tempat publik atau khalayak menyampaikan ide, gagasan, kebutuhan, termasuk kritik-kritiknya terhadap lembaga maupun tokoh-tokoh pemerintahan.

Baca juga : Konvergensi Media Diterapkan Lampung Post Sejak 2018

Ia juga menjelaskan kebebasan berekspresi itu juga termasuk dalam memproduksi hingga mendistribusikan konten terkonvergensi. Seseorang bisa membuat konten audio visual, kemudian menjadi konten visual, audio, bahkan menjadi teks.

"Era konvergensi membuat kebebasan berekspresi menjadi semakin luas," kata Iskandar yang juga Pemimpin Redaksi Lampung Post itu pada Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Lampung-Bandar Lampung bertajuk kebebasan berekspresi di era digital, Jumat, 25 Juni 2021.

Baca juga : UU Konvergensi Media untuk Selamatkan Perusahaan Pers

Namun, ia mengatakan, bebas bukan berarti seseorang bisa berekspresi tanpa batasan. Kebebasan berekspresi tidak boleh melanggar hak dan melukai orang lain. Selain itu, tidak boleh membahayakan kepentingan publik, negara, dan masyarakat.

Menurutnya, konten yang berisi fitnah, penghinaan, atau pencemaran nama baik, misalnya, melanggar UU ITE Pasal 27 ayat 3 UU ITE. Sedangkan sanksi yang melakukan perbuatan itu diatur di Pasal 45 ayat 3 UU 19/2016.

"Kebebasan berekspresi di ruang digital memiliki batas-batas yang sama dengan hak-hak digital," ujar dia.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar