#buras#bew#ojol

Era Disrupsi Ojol Mulai Terbayang!

( kata)
Era Disrupsi Ojol Mulai Terbayang!
Ilustrasi Google Images

H. Bambang Eka Wijaya

ERA disrupsi, kian melemahnya suatu bidang usaha sebagai harapan sumber penghidupan masa depan, mulai terbayang pada ojek online (ojol). Aksi unjuk rasa 5.000-an driver ojol di depan Kemenperhub dan Istana Negara (15/1/2020), mencerminkan mulai sulitnya kehidupan driver mitra ojol.

Di balik tuntutan legalitas ojol sebagai angkutan umum yang belum mendapatkan titik cerah, Ketua Presidium Gabungqn Aksi Dua Roda (Garda) Igun Wicaksono mengungkap, selama ini driver ojol mengeluhkan soal pengaturan kemitraan ojol. Driver meminta pemerintah dapat melindungi status mitra para driver. Pihaknya menegaskan bahwa mereka adalah pekerja, bukan pembantu aplikator.

"Jangan mau kita dipecah belah aplikator. Kita mau mempertegas aturan kita sebagai mitra. Jangan mau kita diperas aplikator. Kita bukan jongos, kita pekerja," tegas Ketua Umum GASPOOL Lampung Miftahul Huda. (detik.com, 9/2/2020)

Menurut Miftahul, selama ini aplikator selalu semena-mena terhadap driver yang cuma jadi mitra. Salah satu bentuk kesewenangan aplikator adalah asal suspend kepada driver.

"Sampai saat ini belum ada aturan kemitraan, makanya aplikator sewenang-wenang aja bikin aturan. Driver itu rawan di-suspend, alasannya sistem, sistem, aja. Padahal, kan suspend bikin pendapatan driver terputus," kata Miftah.

Detik.com coba menyelami realitas kehidupan ojol dengan kesewenangan aplikator itu. Driver ojol kini jadi jenis pekerjaan baru. Jumlahnya terus bertambah menyebabkan persaingan makin ketat, sehingga order alias pesanan ojol makin sulit didapat.

Menurut Maryanto (54) yang sudah menjadi driver ojol sejak 2015, kalau di masa awal dahulu sehari bisa dapat Rp500 ribu, dipotong bensin dan lainnya bersih bisa Rp300 ribu sehari atau sebulan Rp9 juta, saat ini sehari paling dapat Rp150 ribu kotor. "Bersihnya paling Rp100 ribu," kata Maryanto.

Untuk saat ini pendapatan tersebut tergolong mujur. Penyebabnya, seringnya aplikasi error, menyebabkan makin sedikit mendapatkan penumpang. Cerita Maryanto, jika aplikasi error hanya bisa menarik 3-4 penumpang. Dari penghasilan itu hanya habis untuk keperluan pribadinya.

Hal serupa dikemukakan driver ojol lainnya. Salah satunya Dadang (40) yang sudah empat tahun aktif di aplikator lainnya. Aplikator boleh beda, nasib driver ojol tetap sama, saat ini makin sulit mencari Rp150 ribu sehari.

Tampak, kehidupan driver ojol di bawah kesewenangan aplikator tak bisa lagi melihat cerahnya penghidupan masa depan. ***

 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar