#dbd#lampung

Epidemiolog Nilai Pemberantasan Sarang Nyamuk Jadi Antisipasi untuk Kendalikan DBD

( kata)
Epidemiolog Nilai Pemberantasan Sarang Nyamuk Jadi Antisipasi untuk Kendalikan DBD
Ilustrasi jentik nyamuk di wadah tergenang air. Foto: Istimewa


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pemberantasan sarang nyamuk pada air bersih atau air yang tertampung menjadi langkah antisipasi dan pengendalian kasus demam berdarah dengue (DBD). Sebab median air bersih menjadi tempat berkembang biak nyamuk jenis Aedes Aegypti pembawa virus DBD. 

Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Lampung, Ismen Muhktar, mengatakan, pemerintah daerah dapat melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk itu melalui aparat kelurahan, pamong, RT, dan masyarakat. 

"Harusnya yang dilakukan sejak awal adalah tindakan pencegahan. Karena wabah DBD ini bukan soal penanganan kesehatan, melainkan kepada tindakan antisipasi mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti," ujarnya melalui telepon, Senin, 10 Januari 2022. 

Menurut Ismen, pada musim hujan dengan intensitas tinggi seperti saat ini bukan tidak mungkin kasus DBD akan meningkat. Oleh sebab itu, sebelum kasus warga terjangkit DBD semakin meluas, perlu digalakkan kegiatan menjaga kebersihan secara bersama antara unsur pemerintah dan masyarakat.

"Nyamuk pembawa virus DBD ini tempat berkembang biaknya adalah air bersih, bukan air di saluran drainase dan lainnya. Lebih di tempat penampungan air dirumah yaitu bak, bahkan air hujan yang tertampung diluar rumah pun bisa," kata dia. 

Baca juga: Warga Lamsel Diminta Optimalkan Pemberantasan Sarang Nyamuk

Menurutnya, pencegahan merupakan salah satu upaya yang mudah dan hemat ketimbang melakukan pengasapan (fogging) yang hanya berfokus pada nyamuk dewasa. 

"Warga juga jangan lengah ketika sudah di-fogging. Itu belum selesai. Karena masih banyak telur, nyamuk, dan jentik nyamuk yang sudah siap dalam 10 hari ke depan untuk menetes dan menjadi nyamuk dewasa," ungkapnya. 

Ismen melanjutkan seiring tingginya intensitas curah hujan, nyamuk Aedes Aegypti tetap ada. Namun, tidak begitu banyak ketika musim hujan. 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar