#COVID-19#JAKARTA

Epidemiolog Nilai Aturan Bebas Karantina untuk PPLN Berpotensi Munculkan Mutasi Baru

( kata)
Epidemiolog Nilai Aturan Bebas Karantina untuk PPLN Berpotensi Munculkan Mutasi Baru
Petugas memeriksa kelengkapan surat wisatawan yang baru tiba dari Abu Dhabi untuk menjalani karantina beberapa waktu lalu di Jakarta. (Foto: MI/Ramdhani)


Jakarta (Lampost.co) -- Epidemiolog Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko, mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam menerapkan aturan bebas karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) yang masuk ke Bali mulai 7 Maret 2022. Aturan tersebut berpotensi memunculkan mutasi baru di dalam negeri yang akhirnya menyebabkan lonjakan kasus.
 
"Sekarang kasus harian masih 25 ribu. Jangan dulu. Kalau dibuka tanpa karantina, Bali akan kemasukan semua varian dan kemungkinan mutasi dalam negeri akan banyak," kata Miko dilansir Media Indonesia, Sabtu, 5 Maret 2022.
 
Miko mengakui varian Omicron yang saat ini mendominasi Indonesia memiliki gejala yang ringan. Namun, bisa saja varian tersebut menyatu dengan varian Delta dan Alfa yang memungkinkan gejalanya menjadi lebih berat.

Aturan pelonggaaran karantina, jelas Miko, sebenarnya bisa saja dipersingkat menjadi 4 sampai 5 hari masa karantina. Namun, jangan sampai karantina ditiadakan sama sekali di tengah kasus covid-19 Indonesia yang masih di atas 20 ribu dalam sehari.
 
"Kalau kasus sudah 2 ribu atau 3 ribuan, baru kita bicara mengenai provinsi mana yang akan dibuka," ucap dia.
 
Dalam membuka wilayah, ia mengingatkan pemerintah tidak bisa  sembarangan. Selain harus memiliki roadmap yang jelas dalam penanganan kasus, provinsi yang akan dibuka juga harus menyatakan bahwa mereka telah bebas dari wabah covid-19 yang dibuktikan dengan survei mutakhir.
 
"Misalnya untuk provinsi Bali, apakah upaya isolasi dari pasien yang tertangkap sudah baik, apakah sudah terkontrol pasien positifnya. Jangan asal declare saja," jelas dia.
 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar